Minyak Menguat di Tengah Kebuntuan Geopolitik AS dan Iran
Harga minyak naik seiring kebuntuan AS-Iran terkait akses di Selat Hormuz belum menemukan jalan keluar, menjaga risiko pasokan tetap tinggi. Brent diperdagangkan kembali di atas US$114 per barel, mencerminkan premi geopolitik yang masih melekat setelah arus minyak, gas, dan produk minyak dari Teluk Persia terhenti sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Nada konflik turut mengeras setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan keras di media sosial. Di sisi kebijakan, laporan Wall Street Journal menyebut Washington menyiapkan skenario blokade laut yang lebih panjang terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan pendekatan memperketat tekanan ekonomi dan ekspor minyak dinilai lebih rendah risikonya dibanding opsi eskalasi militer lain.
Kondisi suplai yang tersendat telah mendorong lonjakan harga bahan bakar seperti bensin, diesel, dan avtur, memperkuat kekhawatiran inflasi global. Dari sisi transmisi makro, kenaikan energi berpotensi menambah tekanan pada ekspektasi inflasi dan menjaga bias kebijakan moneter tetap ketat lebih lama, terutama jika gangguan pasokan berlarut.
Gencatan senjata disebut bertahan sejak awal April, namun upaya diplomatik untuk mempertemukan negosiator belum membuahkan hasil. CNN melaporkan mediator memperkirakan Iran dapat mengajukan proposal revisi dalam beberapa hari, sementara Kpler menilai kebuntuan bisa berlangsung berminggu-minggu, dengan pasar global atau Iran menjadi titik penentu kapan tekanan ini mulai mereda.
Tekanan terhadap Teheran juga meningkat lewat jalur sanksi, termasuk peringatan OFAC kepada lembaga keuangan terkait risiko sanksi pada kilang independen di China dan penegasan eksposur sanksi atas pembayaran “toll” untuk melintas Hormuz. Pasar akan memantau tiga hal: perkembangan negosiasi AS-Iran, durasi dan efektivitas blokade serta dampaknya pada arus fisik Teluk Persia, dan eskalasi kebijakan sanksi yang dapat mengganggu rantai pasok lebih luas. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id