Minyak Turun, Harapan pada Kesepakatan Gencatan Senjata Iran
Harga minyak melemah pada awal perdagangan Asia setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan gencatan senjata permanen dengan Iran dapat dicapai sebelum gencatan senjata saat ini berakhir pekan depan. Brent turun 1,4% ke sekitar US$98 per barel, memangkas kenaikan dari sesi sebelumnya, sementara emas dan dolar relatif stabil.
Pasar menilai negosiasi lanjutan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, sehingga meredakan tekanan minyak, inflasi, dan membantu prospek pertumbuhan global. Namun, waktu dan ketahanan kesepakatan masih belum pasti. Trump mengatakan peluang kesepakatan “terlihat sangat baik” dan mengklaim—tanpa bukti—Iran telah menyetujui syarat-syarat yang selama ini ditolak, termasuk menyerahkan material nuklir, meninggalkan ambisi senjata nuklir, serta memasukkan “free oil” dan pembukaan Hormuz. Teheran belum mengonfirmasi konsesi tersebut.
Kehati-hatian tetap muncul di kalangan pembuat kebijakan. Sejumlah delegasi di pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington memperingatkan pasar bisa meremehkan dampak ekonomi perang. Di sisi geopolitik, Trump juga mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, yang kemudian dikonfirmasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meski pengumuman tersebut tidak menyinggung Hezbollah.
Di pasar aset global, sentimen risk-off ringan terlihat di Asia dengan indeks MSCI kawasan turun 0,5%. Kontrak berjangka saham AS bergerak campuran, setelah S&P 500 dan Nasdaq 100 ditutup menguat dan kembali mencetak rekor untuk hari kedua berturut-turut, dipimpin saham teknologi. Di korporasi, laporan laba sektor keuangan AS memberi hasil beragam, sementara data AS yang lebih “dingin” minggu ini—termasuk harga produsen dan impor, serta klaim pengangguran awal di bawah perkiraan—menopang reli Wall Street.
Komentar analis juga menunjukkan pasar mulai jenuh terhadap headline geopolitik. Ian Lyngen dari BMO menilai pelemahan minyak mencerminkan “headline fatigue,” dengan pola konsolidasi mengindikasikan pengaruh berita geopolitik baru mulai berkurang. Namun, pelaku pasar tetap memantau dua variabel utama: apakah ada kemajuan nyata yang membuka kembali Hormuz, serta apakah pernyataan optimistis AS diterjemahkan menjadi kesepakatan yang kredibel dan berkelanjutan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id