Bentrokan AS–Iran, Emas Terseret ke Terendah Sepekan
Harga emas turun pada Rabu (3/6) setelah bentrokan baru di Timur Tengah kembali meragukan peluang kesepakatan damai AS–Iran, menjaga harga energi tetap tinggi dan memperbesar kekhawatiran inflasi. Bullion sempat turun hingga 1,4% ke bawah US$4.430/oz, menjadi level terendah hampir sepekan.
Eskalasi terbaru terjadi setelah AS dan Iran kembali terlibat bentrokan semalam, dengan Kuwait dan Bahrain ikut terdampak dalam salah satu flare-up paling serius sejak gencatan senjata berlaku awal April. Pada saat yang sama, minyak naik untuk hari ketiga berturut-turut, sementara data pasar kerja AS yang tetap kuat membuat pasar kembali memikirkan skenario suku bunga lebih ketat.
Kombinasi minyak mahal dan ekonomi AS yang tangguh memperkuat ekspektasi bahwa The Fed bisa mempertahankan sikap hawkish, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga. Kondisi suku bunga tinggi biasanya negatif untuk emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil, dan penguatan dolar menambah tekanan.
Sejak konflik pecah akhir Februari, emas banyak bergerak berlawanan arah dengan minyak. Meski sudah turun tajam di awal perang dan masih sekitar 15% di bawah level pra-konflik, emas belakangan bergerak dalam kisaran sempit, namun dengan pola lower highs yang menunjukkan sentimen dasar masih rapuh.
Gangguan berkepanjangan terhadap arus energi melalui Selat Hormuz menjadi kanal utama yang mengikat emas, minyak, dan suku bunga: semakin lama pasokan tersendat, semakin besar risiko inflasi global, dan semakin kuat alasan bank sentral menahan atau menaikkan suku bunga.
Pada 11:41 waktu New York, emas spot turun 1,1% ke US$4.439,70/oz. Perak turun 2,3% ke US$73,3623, sementara platinum dan palladium ikut melemah. Indeks dolar Bloomberg naik 0,2%.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id