Minyak Brent Naik di Atas $97, Risiko AS-Iran, Stok AS Jaga Premi Harga
Harga minyak brent menguat lebih dari 1% ke atas US$97 per barel pada Rabu (3/6), yang memperpanjang kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut. Pasar merespons kombinasi headline geopolitik dan sinyal fundamental, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah setuju tidak mengejar senjata nuklir dan menyebut ia dapat bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei jika perkembangan berjalan positif.
Meski begitu, tensi Washington-Teheran tetap tinggi karena negosiasi mengenai kesepakatan damai sementara masih berlangsung. Ketidakpastian ini menjaga premi risiko minyak, terutama karena pasar masih menilai arah pembicaraan dapat berubah cepat di tengah dinamika konflik yang belum stabil.
Situasi semakin kompleks dengan meluasnya operasi Israel di Lebanon. Trump mengatakan ia telah mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk meredakan konflik dalam panggilan terbaru, namun eskalasi kawasan tetap menjadi sumber volatilitas bagi pasar energi.
Dalam semalam, pasukan AS dan Iran terlibat dalam salah satu konfrontasi paling serius sejak gencatan senjata dimulai, dengan Kuwait dan Bahrain ikut terdampak. Perkembangan keamanan di sekitar Teluk kembali menjadi fokus karena berpotensi mengganggu persepsi risiko pasokan dan jalur logistik energi.
Dari sisi fundamental, data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 6,8 juta barel pekan lalu, menandai penurunan stok untuk enam minggu berturut-turut. Pengetatan stok ini memberi dukungan tambahan pada harga, memperkuat bias naik saat pasar juga memegang premi risiko geopolitik.
Ke depan, pasar akan memantau dua jalur utama: apakah pembicaraan AS-Iran menghasilkan langkah de-eskalasi yang lebih konkret, serta apakah tren penurunan stok AS berlanjut. Kombinasi keduanya akan menentukan apakah Brent mampu bertahan di atas US$97 atau kembali sensitif terhadap perubahan headline kawasan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id