Harga Minyak Berayun, AS Klaim Blokade Iran Sudah Diterapkan Penuh
Harga minyak bergerak naik-turun pada Rabu (15/4), namun tetap berada jauh di bawah ambang US$100 per barel, saat pelaku pasar menimbang dampak blokade laut AS terhadap Iran di tengah harapan lanjutan pembicaraan gencatan senjata.
Pada pukul 15.20 ET (19.20 GMT), Brent nyaris tidak berubah di US$94,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,5% ke US$90,86 per barel.
Pergerakan Rabu terjadi setelah penurunan tajam harga minyak sepanjang pekan ini. Sentimen terutama terbebani oleh optimisme pasar bahwa negosiasi dapat kembali dibuka untuk mengarah pada penghentian permanen perang Iran. Pemangkasan proyeksi permintaan dari IEA dan OPEC juga menambah tekanan pada harga, menurut materi sumber.
Di sisi pasokan dan geopolitik, U.S. Central Command menyatakan melalui unggahan media sosial bahwa blokade atas pelabuhan-pelabuhan Iran telah “diterapkan sepenuhnya,” dan pasukan AS telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut.” Blokade angkatan laut AS dimulai awal pekan ini, dilaporkan bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Teheran agar menerima kesepakatan gencatan senjata.
Upaya diplomatik terbaru disebut belum menghasilkan terobosan. Pembicaraan AS–Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, meski sejumlah pengamat menilai peluang tercapainya deal dalam waktu singkat memang terbatas.
Bagi pasar minyak, jalur transmisi utamanya berada pada risiko gangguan pasokan dan logistik pengapalan. Blokade berpotensi memperburuk disrupsi pelayaran di Selat Hormuz, terutama jika Teheran merespons dengan kekuatan militer. Selat Hormuz menjadi titik fokus konflik, dengan Iran disebut sebelumnya secara efektif menutup jalur tersebut sebagai respons atas permusuhan AS–Israel pada akhir Februari.
Ke depan, perhatian pasar cenderung tertuju pada dua hal: ketegasan pelaksanaan blokade dan respons Iran yang dapat mengubah risiko Selat Hormuz, serta perkembangan pembicaraan gencatan senjata yang sejauh ini menjadi jangkar optimisme sehingga menahan premi risiko di harga minyak.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id