Minyak Tertahan, Optimisme Diplomasi Bentur Blokade Hormuz
Harga minyak berupaya menahan penurunan tajam dari level tertinggi pekan ini, ketika AS dan Iran mendorong pembicaraan lanjutan untuk mengakhiri perang yang nyaris melumpuhkan Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar $96 per barel, mendekati level sebelum pembicaraan damai gagal akhir pekan lalu, setelah sempat turun hampir 5% pada Selasa.
Sentimen membaik setelah laporan menyebut AS dan Iran makin mendekati kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang berlaku saat ini. Presiden Donald Trump juga mengatakan perang “sangat dekat dengan akhir” dan menggambarkan dua hari ke depan sebagai periode yang “luar biasa,” memperkuat asumsi pasar bahwa jalur diplomasi berpeluang mengambil alih dari eskalasi.
Meski demikian, pasar masih dibayangi jejak guncangan pasokan besar akibat konflik, ketika produsen utama Teluk Persia kehilangan akses jalur ekspor vital dan infrastruktur energi diserang. Beberapa pihak menyebut AS dan Iran berupaya melakukan diskusi tambahan sebelum gencatan senjata 7 April berakhir pekan depan, di tengah penilaian bahwa pemulihan pasokan, jika terjadi, cenderung bertahap.
Optimisme diplomasi menjadi faktor utama yang menekan premi risiko, tetapi ketegangan di jalur pengapalan tetap menjadi variabel kunci. AS melanjutkan blokade Hormuz untuk mengekang ekspor minyak Iran, dan komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, menyatakan pasukan AS telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan masuk dan keluar Iran melalui laut.” Iran memperingatkan langkah itu bisa dianggap pelanggaran gencatan senjata jika terus diberlakukan.
Di pasar fisik, lonjakan harga minyak mentah dan produk seperti bensin sempat membebani konsumen dan menekan permintaan, dengan IEA disebut memperkirakan konsumsi tahun ini menurun. Sejumlah kekuatan pasar fisik juga disebut mereda belakangan, mengindikasikan pelaku pasar tidak memproyeksikan gangguan berlangsung berbulan-bulan, meski patokan Dated Brent masih berada di atas $120 per barel.
Sementara importir Asia merasakan tekanan lebih besar—Jepang menyiapkan pelepasan kedua dari stok nasional mulai awal Mei—pasar juga mencermati faktor pengetatan lain: pemerintah AS disebut membiarkan pengecualian sementara yang mengizinkan pembelian minyak Iran tertentu berakhir akhir pekan ini. Dari sisi data, American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 6,1 juta barel pekan lalu; jika dikonfirmasi data resmi Rabu, itu akan menjadi kenaikan kedelapan beruntun dan dapat memengaruhi arah harga jangka pendek.(gn)
Sumber: Newsmaker.id