Blokade Berjalan, Tapi Harapan Diplomasi Tekan Minyak
Harga minyak melemah pada hari Selasa (14/4) setelah muncul sinyal dari Washington dan Teheran yang membuka peluang menghidupkan kembali perundingan, meski AS baru saja memulai blokade terhadap kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Brent turun tipis ke sekitar US$99 per barel, sementara WTI berada di dekat US$97, dengan pasar menilai peluang de-eskalasi dapat menurunkan premi risiko pasokan meski ketidakpastian operasional di Selat Hormuz masih tinggi.
Sumber yang mengetahui pembahasan mengatakan AS dan Iran mendiskusikan putaran negosiasi tatap muka berikutnya untuk mengupayakan gencatan senjata jangka panjang, dengan target digelar sebelum jeda permusuhan dua pekan yang diumumkan 7 April berakhir. Reuters juga melaporkan tim negosiasi berpeluang kembali ke Pakistan pekan ini. Pada saat yang sama, pelaku pasar memantau kapal terkait China yang terkena sanksi AS, Rich Starry, yang menurut data pelacakan sedang melintasi selat dan berpotensi menjadi uji awal atas pembatasan baru, meski belum jelas apakah kapal tersebut singgah di pelabuhan Iran atau membawa kargo.
Tekanan di pasar energi tetap kompleks. International Energy Agency memperingatkan konflik berisiko menghapus pertumbuhan permintaan minyak tahun ini—penurunan tahunan pertama sejak pandemi—dan kepala lembaga itu menilai harga belum sepenuhnya mencerminkan skala krisis. Di sisi pasokan, perang telah memukul infrastruktur energi dan Iran mempertahankan pembatasan arus di Hormuz, memicu supply shock, sementara blokade AS menambah lapisan risiko baru bagi rantai pasok dan pergerakan kapal.
Dorongan diplomasi juga datang dari kawasan. Wall Street Journal melaporkan Arab Saudi mendesak AS menghentikan blokade dan kembali ke meja perundingan, di tengah kekhawatiran langkah Washington bisa mendorong Iran mengganggu rute pelayaran penting lain. Di sisi hilir, biaya ritel bensin dan diesel di AS sempat naik ke level tertinggi sejak 2022 awal bulan ini, sementara harga jet fuel dan diesel di Eropa melonjak ke rekor atau mendekati rekor di atas US$200 per barel. Wakil Presiden JD Vance mengakui tekanan pada konsumen AS, namun menyatakan blokade meningkatkan leverage negosiasi.
Pasar kini menunggu konfirmasi jadwal dan lokasi putaran perundingan berikutnya, kejelasan aturan penegakan blokade, serta bukti pemulihan arus kapal di Hormuz. Variabel kunci yang dipantau: intensitas gangguan fisik pasokan, risiko perluasan gangguan ke chokepoint lain, arah harga produk olahan (diesel/jet), serta sinyal IEA dan pemerintah terkait dampak permintaan dan inflasi energi.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id