Emas Bertahan Lemah di US$4.455 Saat Dolar Menguat
Emas (XAU/USD) melemah dan bertahan dekat area terendah pekan ini di sekitar US$4.455 pada sesi Eropa Rabu. Tekanan datang dari dolar AS yang lebih kuat dan ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat.
Kenaikan harga minyak untuk hari ketiga beruntun menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa suku bunga global dapat bertahan tinggi lebih lama, yang umumnya membebani aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di Timur Tengah, ketegangan kembali meningkat setelah CENTCOM menyebut AS melakukan serangan “self-defence” di Pulau Qeshm. Iran kemudian meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain, meski sebagian besar dilaporkan berhasil dicegat, sementara eskalasi Israel-Hezbollah juga berlanjut.
Dari sisi diplomasi, Menlu AS Marco Rubio menyatakan sanksi Iran tidak akan dicabut hanya demi pembukaan Selat Hormuz, dan pelonggaran dikaitkan dengan penghentian uranium yang diperkaya. Presiden AS Donald Trump juga menyebut perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu dan kelanjutan blokade hingga negosiasi selesai, yang ikut menjaga premi risiko energi.
Komentar pejabat Fed menambah dorongan ke skenario “higher for longer.” Presiden Cleveland Fed Beth Hammack menegaskan komitmen menurunkan inflasi ke 2% dan membuka ruang tindakan jika inflasi tidak mendingin.
Pasar juga menilai peluang di atas 50% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan Desember, berdasarkan FedWatch Tool CME. Kombinasi yield yang tetap tinggi dan dolar yang kokoh menjadi faktor kunci yang menahan pemulihan emas, dengan perhatian pasar tertuju pada arah inflasi energi dan perkembangan negosiasi AS-Iran. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id