Minyak Berayun Jelang Pembicaraan AS-Iran, Gangguan Saudi Tahan Pelemahan
Harga minyak berfluktuasi menjelang pembicaraan akhir pekan antara Iran dan Amerika Serikat yang diperkirakan menjadi penentu arah gencatan senjata yang masih rapuh. Pelaku pasar cenderung menahan posisi karena hasil pertemuan dipandang krusial untuk meredakan atau justru menghidupkan kembali premi risiko pasokan.
Brent diperdagangkan mendekati US$96 per barel, namun masih tertekan secara mingguan dengan penurunan sekitar 12% dan berada di jalur koreksi terbesar sejak Juni. Fokus pasar tertuju pada pertemuan di Islamabad pada Sabtu, dengan Wakil Presiden AS JD Vance disebut akan memimpin diskusi dengan pejabat Iran.
Di sisi suplai, Arab Saudi menyatakan serangan terhadap infrastruktur energinya membatasi arus melalui pipa East–West yang digunakan untuk ekspor via Laut Merah. Serangan tersebut memangkas kapasitas produksi lebih dari 600.000 barel per hari dan mengurangi aliran pipa sekitar 700.000 barel per hari, memperkuat persepsi bahwa risiko gangguan masih nyata meski ada ceasefire.
Faktor lain yang menahan normalisasi adalah lalu lintas di Selat Hormuz yang disebut tetap hampir terhenti. Pasar menilai pemulihan arus pengapalan menjadi indikator paling langsung untuk menguji apakah gencatan senjata bisa berlanjut dan membuka jalan bagi stabilisasi yang lebih permanen.
Komentar para pejabat menambah dinamika: Presiden AS Donald Trump menyatakan “sangat optimis” soal kesepakatan, tetapi juga mengancam Teheran terkait laporan pengenaan biaya bagi tanker yang melintasi Hormuz. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan serangan Israel yang berlanjut bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS–Iran, sementara pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan pengelolaan Hormuz akan dibawa ke “tahap baru”.
Sejumlah analis menggambarkan pertemuan akhir pekan sebagai hasil yang sulit diprediksi, namun pasar kembali memusatkan perhatian pada realitas arus Hormuz yang dinilai “masih jauh dari normal” dan kecil kemungkinan pulih cepat. Dengan kombinasi talks yang menentukan, gangguan Saudi, dan Hormuz yang belum pulih, pergerakan harga diperkirakan tetap volatil dalam waktu dekat.(gn)
Sumber: Newsmaker.id