Gencatan Senjata Rapuh, Premi Risiko Minyak Kembali
Harga minyak melonjak pada Kamis (9/4) setelah pasar menilai Iran masih memegang kendali akses Selat Hormuz meski ada gencatan senjata dua pekan dengan AS, sehingga premi risiko pasokan kembali naik. WTI Mei naik lebih dari 6% ke US$100,27/barel pada 09:51 ET, sementara Brent Juni menguat hampir 4% ke US$98,26/barel.
CEO ADNOC Sultan Ahmed Al Jaber mengatakan selat belum terbuka untuk lalu lintas kapal karena Iran masih membatasi akses, serta menegaskan kapal harus mendapat izin Teheran untuk melintas. Komentar ini menambah kekhawatiran bahwa pemulihan arus energi tidak akan otomatis terjadi, meski kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Di sisi geopolitik, gencatan senjata dinilai rapuh karena perbedaan tafsir. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington melanggar kesepakatan, menyebut tiga poin proposal 10-poin Iran dilanggar: serangan Israel yang berlanjut di Lebanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan atas hak pengayaan uranium. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut “ceasefires memang selalu berantakan”, menegaskan posisi AS bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan, dan mengatakan Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan.
Kombinasi akses Hormuz yang belum normal dan ketidakjelasan cakupan ceasefire membuat pasar kembali mem-price-in risiko gangguan pasokan, sehingga pergerakan minyak berpotensi tetap volatil hingga ada bukti arus kapal pulih secara nyata. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id