Brent Jatuh Saat Trump Umumkan Ceasefire Dua Pekan dengan Iran
Harga minyak turun tajam ke bawah $100 per barel pada Rabu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan Iran, dengan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera dan aman. Kontrak Brent merosot $15,78 atau 14,4% ke $93,49 per barel pada 10.24 GMT, sementara WTI turun $18,90 atau 16,7% ke $94,05. Di pasar produk, solar acuan Eropa ikut melemah 20,4% ke $1.216,75 per metrik ton.
Penurunan mencerminkan pelepasan premi risiko pasokan setelah perubahan sikap Trump datang menjelang tenggat yang sebelumnya ia tetapkan bagi Iran untuk membuka Hormuz atau menghadapi serangan luas terhadap infrastruktur sipil. Selat sempit itu menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak harian dunia. Trump menyebut gencatan senjata bersifat dua sisi, setelah sehari sebelumnya menaikkan tensi lewat pernyataan keras di media sosial.
Iran mengatakan akan menghentikan serangan jika serangan terhadapnya berhenti, dan menyatakan transit aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan selama dua minggu dalam koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, menurut pernyataan Menlu Abbas Araqchi. Sejumlah analis menilai, secara teori, pasokan minyak mentah dan produk sekitar 10–13 juta barel per hari yang sempat tertahan di belakang Hormuz berpotensi dilepas bertahap, meski pemulihan ke kondisi sebelum Maret akan bergantung pada apakah gencatan senjata dapat dikonversi menjadi perdamaian permanen lewat negosiasi di Pakistan.
Di lapangan, para pengirim masih mencari kejelasan terkait logistik, sementara sejumlah penyuling mulai menanyakan pemuatan kargo baru sebagai respons atas kesepakatan. Pada saat yang sama, beberapa negara Teluk melaporkan peluncuran rudal dan serangan drone atau mengeluarkan peringatan kepada warga sipil untuk berlindung, menegaskan bahwa risiko eskalasi belum sepenuhnya hilang.
Pasar juga menimbang apakah premi geopolitik akan benar-benar lenyap, mengingat sebagian analis memperkirakan Iran dapat lebih sering menggunakan ancaman terhadap Hormuz ke depan, sehingga risiko struktural di jalur tersebut tetap dihargakan. Perang AS-Israel dengan Iran sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak bulanan paling tajam dalam sejarah, lebih dari 50%, dan sejumlah pihak menilai masih ada ruang bagi premi risiko yang bertahan tergantung detail perjanjian komprehensif serta kemajuan menuju kesepakatan jangka panjang.(gn)
Sumber: Newsmaker.id