Minyak Berfluktuasi, Ketegangan Greenland Mengintai
Harga minyak bergerak naik-turun tipis karena pasar masih menimbang dampak dari dorongan AS untuk menguasai Greenland. Brent bertahan di sekitar $64 per barel, sementara ketegangan politik membuat pelaku pasar hati-hati. Trump kembali menyerang sekutu-sekutunya lewat media sosial, dan pemimpin Eropa mulai memberi sinyal akan merespons keras jika AS benar-benar menerapkan tarif terkait wilayah semi-otonom milik Denmark itu.
Eskalasi ini sudah menekan pasar saham dan mendorong emas serta perak menembus rekor. Namun untuk minyak, efeknya masih kecil karena pasar lebih fokus ke faktor fundamental. “Kekhawatiran pertumbuhan akibat ancaman tarif membebani sentimen risiko,” kata analis UBS Giovanni Staunovo. Intinya, kalau perang dagang membesar, permintaan energi bisa ikut melemah.
Di sisi lain, minyak tetap terbebani oleh kekhawatiran pasokan lebih besar daripada permintaan. Badan Energi Internasional memperkirakan surplus signifikan, bahkan bisa lebih dari 3,8 juta barel per hari tahun ini. Meski begitu, gangguan pasokan membantu menahan penurunan, setelah produsen terbesar Kazakhstan sempat menghentikan produksi di ladang Tengiz dan Korolev usai dua kebakaran di pembangkit listrik.
Menjelang pidatonya di Davos hari Rabu, Trump kembali menegaskan dorongan untuk Greenland dan merasa Uni Eropa tidak akan terlalu melawan. Di pasar, Brent kontrak Maret sempat naik 0,8% ke $64,47 di London, sementara WTI Februari (yang berakhir Selasa) naik 1% ke $60,06. Selain itu, harga minyak Timur Tengah juga mulai “berbeda arah”: minyak berat jadi lebih murah dibanding minyak ringan, membuat kilang Asia cenderung memilih minyak medium-asam demi margin yang lebih tebal.(alg)
Sumber: Newsmaker.id