Minyak Naik Tipis, Data Angka Cina Optimisme
Harga minyak menguat tipis pada perdagangan Selasa (20/1) setelah data ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan mendorong optimisme permintaan. Brent naik 19 sen (0,3%) menjadi $64,13/barel, sementara WTI Februari—yang berakhir hari ini—naik 25 sen (0,4%) menjadi $59,69/barel. Kontrak WTI Maret yang lebih aktif ikut naik tipis ke sekitar $59,42/barel.
Penguatan ini didorong oleh kabar dari China sebagai importir minyak terbesar dunia. Ekonomi China dilaporkan tumbuh 5,0% sepanjang tahun 2025 dan memenuhi target pemerintah. Aktivitas kilang juga meningkat, dengan throughput kilang naik 4,1% dan produksi minyak mentah naik 1,5%, keduanya berada di level tertinggi.
Meski begitu, pasar masih memasang rem karena isu Greenland belum mereda. Presiden AS Donald Trump mengancam tarif tambahan 10% mulai 1 Februari untuk barang dari delapan negara Eropa, dan bisa naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan. Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran perang dagang baru yang bisa menekan pertumbuhan global dan permintaan energi.
Faktor lain yang membantu minyak adalah melemahnya dolar. Dolar turun sekitar 0,3% terhadap mata uang utama, yang membuat minyak berdenominasi dolar terasa lebih murah bagi pembeli di luar AS. Kondisi ini biasanya memberi dukungan tambahan untuk harga minyak.
Di luar itu, pasar juga memadukan dinamika pasokan dan arus perdagangan. Venezuela kembali disinggung setelah Trump bicara soal rencana AS mengelola sektor minyaknya, sementara minyak Venezuela dilaporkan ditawarkan ke pembeli China dengan diskon sekitar $5/barel untuk pengiriman bulan April. Pada saat yang sama, Tiongkok juga meningkatkan pembelian minyak Rusia jenis Urals, mempengaruhi perubahan permintaan India faktor dan sanksi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id