Emas Menguat, Harapan Deal AS-Iran Redakan Risiko Inflasi
Harga emas menguat pada perdagangan Selasa, (4/8) setelah komentar positif terkait perundingan damai Timur Tengah menekan harga minyak secara tajam. Penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral.
Pada pukul 08.37 ET atau 12.37 GMT, spot gold naik 0,6% ke level US$4.080,63 per troy ounce. Sementara itu, gold futures menguat 1,2% ke US$4.138,00 per troy ounce. Di sisi lain, saat artikel ini ditulis gold berada di level US$4063 per try ounce.
Meski menguat, emas masih bergerak dalam kisaran perdagangan terbaru di area US$4.000–US$4.100. Pelaku pasar terus mencermati sinyal campuran dari Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting yang dapat memengaruhi pasokan energi global.
Sentimen emas membaik setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz. Qatar juga disebut masih mendorong solusi diplomatik jangka pendek yang fokus pada deeskalasi konflik dan kelancaran kembali jalur pelayaran energi.
Dari sisi dampak market, turunnya harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi dan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga memberi ruang dukungan bagi emas. Namun, XAU/USD masih berpotensi bergerak terbatas selama belum ada kesepakatan resmi AS-Iran. Jika negosiasi gagal dan ketegangan Teluk kembali meningkat, harga minyak bisa rebound dan emas berpotensi kembali volatil. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id