Warsh Tegaskan Lawan Inflasi, Tapi Belum Beri Sinyal Hike
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi dalam testimoni pertamanya di hadapan Kongres sejak memimpin bank sentral AS. Namun, Warsh masih belum memberi sinyal jelas apakah ia mendukung kenaikan suku bunga untuk mencapai target tersebut.
Di hadapan House Financial Services Committee, Warsh mengatakan The Fed akan menetapkan kebijakan yang tepat agar lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir bisa menjadi masa lalu. Ia juga menegaskan bahwa para pejabat The Fed tidak akan mentoleransi inflasi yang terus berada di level tinggi dan tetap berkomitmen mengembalikan stabilitas harga.
Pernyataan Warsh muncul bersamaan dengan rilis data CPI AS bulan Juni yang menunjukkan inflasi turun tajam. Penurunan harga energi akibat gencatan sementara perang dengan Iran membuat inflasi utama melemah, sementara inflasi inti juga turun lebih besar dari perkiraan. Data ini menjadi kabar positif bagi The Fed, meskipun risiko bisa kembali muncul karena konflik AS-Iran kembali memanas dan harga minyak naik lagi.
Warsh juga menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Ia menyebut jumlah pemutusan hubungan kerja masih relatif rendah, lowongan kerja hanya sedikit berubah, dan pertumbuhan upah nominal tetap solid. Kondisi tenaga kerja yang kuat membuat fokus The Fed masih tertuju pada pengendalian inflasi.
Meski begitu, pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 28–29 Juli. Ketidakpastian ini muncul karena Warsh enggan memberi arahan eksplisit soal jalur kebijakan ke depan. Beberapa pejabat The Fed lain, seperti Christopher Waller dan John Williams, memberi sinyal bahwa data inflasi yang kembali panas dapat memperkuat alasan untuk menaikkan suku bunga.
Selain inflasi energi, The Fed juga mencermati tekanan harga dari investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau AI. Permintaan tinggi terhadap semikonduktor, chip, server, dan infrastruktur AI membuat harga sejumlah komponen naik tajam tahun ini. Warsh mengatakan The Fed akan terus memantau dampak AI terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja, sambil menilai bahwa investasi AI berpotensi memberi dorongan produktivitas bagi ekonomi AS. (arl)*
Sumber : Newsmaker.id