The Fed Berpeluang Hawkish, Minyak Terus Naik, Kenapa Emas Menolak Jatuh ?
Apa yang sedang terjadi dengan emas?
Pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, emas spot berada di sekitar US$4.132 per troy ounce setelah sehari sebelumnya menyentuh sekitar US$4.166, level tertinggi dalam dua pekan. Jadi, emas sebenarnya mengalami koreksi, tetapi penurunannya masih terbatas dan pembeli kembali muncul ketika harga melemah.
Emas saat ini berada di tengah tarik-menarik dua kekuatan besar:
Tekanan negatifnya berasal dari kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, naiknya yield Treasury AS, dan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed. Suku bunga dan yield tinggi biasanya kurang baik bagi emas karena emas tidak memberikan bunga.
Dukungan positifnya berasal dari perang AS–Iran, ancaman terhadap jalur pengiriman energi, permintaan aset aman, serta dolar AS yang sedikit melemah. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Itulah sebabnya emas terlihat “sulit turun”. Setiap tekanan dari yield dan ekspektasi suku bunga tinggi masih diimbangi oleh permintaan perlindungan terhadap perang, inflasi, dan ketidakpastian global.
Selain faktor jangka pendek, emas juga memiliki dukungan struktural dari permintaan investor dan bank sentral. World Gold Council mencatat bahwa pembelian bank sentral dan arus investasi secara historis memiliki hubungan kuat dengan penguatan harga emas. Faktor ini tidak selalu mendorong kenaikan setiap hari, tetapi dapat membuat koreksi emas lebih cepat menarik pembeli.
Mengapa emas tidak langsung jatuh meskipun The Fed kemungkinan menahan suku bunga?
Karena menahan suku bunga bukan berarti The Fed menjadi dovish ataupun hawkish.
Pasar memang memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% dalam rapat 28–29 Juli 2026. Survei Reuters terhadap 104 ekonom menunjukkan seluruh responden memperkirakan suku bunga ditahan. Namun, mayoritas juga memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga hingga akhir tahun.
Yang diperhatikan pasar bukan hanya keputusan “hold”, tetapi pesan setelah keputusan tersebut.
Ada perbedaan besar antara:
“Suku bunga ditahan dan pemangkasan mungkin segera dilakukan.”
dan:
“Suku bunga ditahan, tetapi kami siap menaikkannya jika inflasi tidak turun.”
Skenario kedua disebut hawkish hold. Dalam kondisi seperti itu, emas dapat tertekan sesaat karena pasar menaikkan ekspektasi suku bunga dan yield obligasi. Namun, emas belum tentu jatuh tajam karena alasan The Fed menjadi hawkish adalah kenaikan minyak dan risiko perang—dua faktor yang sekaligus meningkatkan permintaan aset aman.
Dengan kata lain, konflik yang sama sedang memberikan dua dampak berlawanan:
Perang → minyak naik → inflasi naik → The Fed lebih hawkish → negatif bagi emas.
Namun pada saat bersamaan:
Perang → risiko ekonomi dan geopolitik naik → permintaan safe haven meningkat → positif bagi emas.
Karena kedua jalur itu bekerja bersamaan, emas cenderung volatil tetapi tidak mudah membentuk penurunan yang dalam.
Apakah pandangan The Fed kemungkinan hawkish?
Ya, kecenderungan saat ini lebih mengarah ke hawkish, meskipun keputusan dasar untuk Juli masih kemungkinan besar berupa penahanan suku bunga.
Risalah rapat The Fed pada Juni menunjukkan inflasi masih berada di atas target 2%. The Fed juga menghapus bahasa yang sebelumnya memberikan bias ke arah pelonggaran. Sejumlah peserta bahkan menilai suku bunga mungkin perlu berada di atas kisaran saat ini pada akhir tahun apabila tekanan harga tidak mereda.
Beberapa pejabat The Fed juga telah menyuarakan kekhawatiran lebih kuat. Beth Hammack menyatakan inflasi yang terus tinggi merupakan risiko terbesar, Lorie Logan menilai suku bunga yang sedikit lebih tinggi mungkin diperlukan, sedangkan Philip Jefferson mengatakan kebijakan dapat dipertimbangkan kembali apabila inflasi tidak segera mendingin.
Pasar bahkan memperkirakan peluang sekitar 77% untuk kenaikan suku bunga pada September, meskipun pertemuan Juli masih diperkirakan menghasilkan keputusan hold.
Jadi, skenario yang paling masuk akal saat ini adalah:
The Fed menahan suku bunga pada Juli, tetapi mengeluarkan pernyataan hawkish dan membuka peluang kenaikan pada September.
Nada hawkish dapat berbentuk penegasan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, harga energi menjadi risiko, tidak ada rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat, dan kenaikan suku bunga tetap memungkinkan apabila data inflasi kembali memanas.
Apakah minyak masih terus menguat karena perang AS–Iran?
Ya. Minyak masih mendapat dorongan kuat dari perang dan risiko pasokan nyata.
Brent berada di sekitar US$96 per barel, level tertinggi dalam lebih dari enam pekan. Kenaikan tersebut terjadi setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran dan kelompok Houthi menyerang kapal tanker di Laut Merah. Kondisi ini memperluas risiko dari Selat Hormuz menuju jalur Bab el-Mandeb.
Ini penting karena pasar tidak hanya menghadapi “ketakutan psikologis”. Konflik telah mengganggu produksi dan ekspor minyak dari kawasan Teluk. Jajak pendapat analis Reuters memperkirakan pasar minyak global mengalami defisit sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2026, berbalik dari perkiraan surplus sebelum perang. Selat Hormuz sendiri sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang.
Selama beberapa kondisi berikut bertahan, minyak masih memiliki kecenderungan kuat:
pengiriman melalui Selat Hormuz belum kembali normal;
serangan terhadap tanker terus terjadi;
biaya asuransi dan pengiriman meningkat;
produksi serta ekspor negara Teluk terganggu;
pasar khawatir konflik meluas ke infrastruktur energi.
Namun, minyak juga tidak akan naik tanpa batas. Kenaikan dapat tertahan oleh produksi AS yang kuat, melemahnya permintaan China, pelepasan cadangan strategis, penggunaan jalur ekspor alternatif, atau kemajuan menuju gencatan senjata. Analis juga memperkirakan pasar berpotensi kembali surplus pada 2027 apabila aliran minyak Teluk pulih dan produksi global meningkat.
Arah yang perlu diperhatikan
Untuk emas, sentimen dasarnya masih positif tetapi penuh tekanan dari yield. Emas berpeluang bertahan kuat selama perang berlanjut, dolar tidak menguat tajam, dan investor tetap mencari aset aman. Koreksi lebih dalam kemungkinan membutuhkan kombinasi berupa meredanya konflik, minyak turun, dolar menguat, dan The Fed memberikan sinyal kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Untuk minyak, kecenderungan jangka pendek masih bullish selama gangguan pasokan dan pelayaran belum membaik. Risiko pembalikan terbesar adalah gencatan senjata atau normalisasi arus kapal melalui Hormuz.
Kesimpulan utamanya:
Emas sulit turun karena risiko perang masih menopang permintaan safe haven, meskipun kenaikan minyak membuat The Fed semakin hawkish. Minyak sendiri masih kuat karena konflik telah berubah dari sekadar sentimen menjadi gangguan nyata terhadap pasokan dan jalur pengiriman energi.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id