Prediksi FOMC Minutes: Cenderung Hawkish, Tapi Tidak Seagresif Kenaikan Suku Bunga Langsung
Risalah rapat FOMC yang akan dirilis Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia akan menjadi perhatian utama pasar karena ini adalah minutes pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Dalam rapat 16–17 Juni, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi nada kebijakannya berubah lebih tegas terhadap inflasi. Pernyataan resmi The Fed menyebut aktivitas ekonomi masih solid, produktivitas dan investasi modal kuat, sementara inflasi tetap berada di atas target 2% dan The Fed berkomitmen mengembalikan stabilitas harga.
Prediksi utama, FOMC Minutes nanti berpeluang cenderung hawkish ringan hingga hawkish moderat, bukan dovish penuh. Alasannya, proyeksi ekonomi terbaru The Fed menunjukkan inflasi masih menjadi masalah utama. Dalam Summary of Economic Projections bulan Juni, proyeksi PCE inflation 2026 dinaikkan menjadi 3,6% dari 2,7% pada proyeksi Maret, sementara core PCE inflation dinaikkan menjadi 3,3% dari 2,7%. Proyeksi median suku bunga akhir 2026 juga naik menjadi 3,8%, dari 3,4% pada proyeksi Maret. Artinya, secara internal The Fed mulai membuka ruang bahwa suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama, bahkan berpotensi naik jika inflasi tidak turun.
Namun, minutes ini kemungkinan tidak akan terlalu “keras” seperti sinyal kenaikan suku bunga langsung. Kevin Warsh dalam konferensi pers menegaskan bahwa The Fed tidak ingin lagi terlalu banyak memberi forward guidance, karena arah kebijakan akan lebih bergantung pada data yang masuk. Warsh juga mengatakan separuh koleganya menilai suku bunga bisa tetap di level saat ini atau lebih rendah hingga akhir tahun, sementara separuh lainnya menilai suku bunga perlu lebih tinggi. Jadi, pasar kemungkinan akan membaca risalah ini sebagai sinyal bahwa The Fed belum sepenuhnya satu suara, tetapi bias kebijakannya tetap lebih condong ke pengetatan dibanding pelonggaran.
Dari sisi data ekonomi, inflasi masih mendukung sikap hawkish. Data PCE bulan Mei menunjukkan indeks harga PCE naik 0,4% secara bulanan dan 4,1% secara tahunan, sementara core PCE naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Ini penting karena PCE adalah ukuran inflasi favorit The Fed. Selama core PCE masih jauh di atas target 2%, ruang bagi The Fed untuk berbicara dovish masih terbatas.
Data tenaga kerja memang mulai memberi sinyal pendinginan. Nonfarm Payrolls bulan Juni hanya bertambah 57.000, lebih rendah dari ekspektasi 110.000, dan data April-Mei direvisi turun 74.000. Akan tetapi, tingkat pengangguran justru turun ke 4,2%, walaupun sebagian disebabkan oleh turunnya partisipasi tenaga kerja. Upah rata-rata juga masih naik 3,5% secara tahunan. Jadi, dari sudut pandang The Fed, pasar tenaga kerja memang melemah, tetapi belum cukup lemah untuk memaksa perubahan sikap menjadi dovish.
Data ISM Services juga memberi sinyal campuran. Indeks jasa AS turun tipis ke 54,0 dari 54,5, tetapi masih berada di atas 50 yang berarti sektor jasa tetap ekspansif. Komponen harga memang turun ke 67,7 dari 71,3, tetapi level tersebut masih tergolong tinggi. Sementara itu, komponen tenaga kerja jasa kembali ekspansi ke 51,2. Ini memperkuat narasi bahwa ekonomi AS belum jatuh tajam, sehingga The Fed masih bisa menjaga nada hati-hati terhadap inflasi.
Komentar pejabat The Fed juga mendukung bias hawkish. Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan risiko kebijakan kini telah bergeser ke arah inflasi yang tinggi, karena pasar tenaga kerja terlihat lebih stabil sementara inflasi kembali meningkat. Dalam pidato terpisah, Waller juga menyebut forward guidance bisa berguna, tetapi bisa menghambat kebijakan jika terlalu kaku. Ini sejalan dengan gaya Warsh yang ingin The Fed lebih fleksibel dan tidak terlalu banyak memberi petunjuk arah suku bunga ke depan.
Untuk emas, skenario hawkish akan menjadi tekanan utama. Jika risalah menunjukkan mayoritas pejabat The Fed semakin khawatir terhadap inflasi, membahas kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan, atau menekankan bahwa kebijakan saat ini belum cukup restriktif, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpeluang menguat. Dalam kondisi seperti ini, emas spot yang sebelumnya berada di sekitar US$4.126 per troy ounce berpotensi turun menguji area US$4.100–US$4.080. Jika tekanan jual berlanjut dan pasar semakin yakin The Fed bisa menaikkan suku bunga pada September, emas berisiko turun lebih dalam ke area US$4.050–US$4.020.
Sebaliknya, skenario dovish baru akan muncul jika minutes menunjukkan banyak pejabat The Fed lebih khawatir pada pelemahan tenaga kerja, menilai lonjakan inflasi energi hanya sementara, dan tidak melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga. Jika narasi seperti ini muncul, emas bisa kembali menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga akan berkurang. Dalam skenario dovish, emas berpeluang naik ke area US$4.170–US$4.200. Jika berhasil menembus area tertinggi dua pekan di sekitar US$4.202, target lanjutan bisa terbuka ke US$4.230–US$4.250.
Kesimpulannya, prediksi paling rasional untuk FOMC Minutes kali ini adalah hawkish ringan, dengan fokus utama pada inflasi yang masih tinggi, komitmen mengembalikan inflasi ke 2%, dan sikap The Fed yang tidak mau terburu-buru memberi sinyal pelonggaran. Namun, karena data tenaga kerja terbaru mulai melemah, The Fed kemungkinan tidak akan memberi sinyal hawkish ekstrem. Jadi untuk emas, risiko awal masih condong turun jika isi minutes menegaskan kekhawatiran inflasi, tetapi penurunan bisa terbatas selama pasar melihat pelemahan tenaga kerja sebagai alasan The Fed menunda kenaikan suku bunga berikutnya.
Catatan edukasi: ini bukan ajakan transaksi, tapi skenario pasar berbasis data. Area harga bisa berubah cepat mengikuti reaksi dolar AS, imbal hasil obligasi AS, dan komentar lanjutan pejabat The Fed setelah minutes dirilis.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id