Menapa Emas Ikut Jatuh Saat Selloff?
Harga emas kembali mendapat tekanan tajam setelah aksi jual besar di saham teknologi memicu kepanikan di pasar global. Kondisi ini terlihat berlawanan dengan karakter emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven. Namun, dalam situasi selloff besar lintas aset, emas tidak selalu langsung menjadi tempat pelarian. Justru, emas bisa ikut dijual karena investor membutuhkan likuiditas cepat.
Aksi jual bermula dari koreksi tajam saham teknologi dan semikonduktor, terutama saham-saham yang sebelumnya naik tinggi karena euforia kecerdasan buatan atau AI. Ketika muncul kekhawatiran bahwa belanja besar perusahaan teknologi belum tentu menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi, investor mulai memangkas posisi. Tekanan ini kemudian menyebar ke pasar global dan membuat pelaku pasar lebih memilih mengurangi risiko.
Dalam kondisi seperti ini, emas sering diperlakukan sebagai sumber dana tunai. Investor yang mengalami kerugian di saham atau terkena tekanan margin dapat menjual emas untuk menutup kebutuhan likuiditas. Karena emas sangat mudah diperdagangkan, logam mulia ini kerap menjadi aset pertama yang dilepas ketika pasar membutuhkan uang cepat. Inilah alasan mengapa emas bisa turun tajam meskipun sentimen pasar sedang negatif.
Tekanan terhadap emas semakin kuat karena dolar Amerika Serikat sedang berada dalam tren menguat. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga permintaan global berpotensi melemah. Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve masih bisa menaikkan suku bunga membuat emas semakin tidak menarik, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Faktor geopolitik juga ikut mengurangi daya tarik emas. Kemajuan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta mulai pulihnya aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz, membuat permintaan safe haven dari sisi perang mulai berkurang. Ketika risiko konflik dianggap mereda, sebagian investor tidak lagi merasa perlu menambah posisi emas sebagai perlindungan.
Dengan demikian, penurunan emas kali ini bukan hanya disebabkan oleh satu faktor. Kombinasi aksi jual saham teknologi, kebutuhan likuiditas, dolar AS yang kuat, ekspektasi suku bunga tinggi, dan meredanya risiko geopolitik menjadi tekanan berlapis bagi emas. Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati apakah emas mampu bertahan di area psikologis penting atau justru kembali tertekan jika data inflasi AS memperkuat sikap hawkish The Fed.
Pada sesi Asia, emas diperkirakan masih rawan bergerak melemah selama tertahan di bawah area US$4.110–US$4.125. Jika harga turun di bawah US$4.090, tekanan jual bisa membawa emas menuju US$4.075, US$4.060, hingga US$4.040. Namun, jika mampu rebound dan menembus US$4.125, emas berpeluang menguji kembali area US$4.145–US$4.165. Untuk saat ini, area US$4.095 menjadi titik penting yang menentukan apakah emas akan melanjutkan koreksi atau mencoba pemulihan teknikal.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id