Saham Asia Rebound Usai Tech Selloff
Bursa saham Asia bergerak menguat pada awal perdagangan setelah sehari sebelumnya terseret aksi jual besar di sektor teknologi global. Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,8% setelah sempat anjlok 3,6% pada Selasa, penurunan terdalam sejak awal Maret. Indeks Kospi Korea Selatan yang banyak dihuni saham chip juga rebound lebih dari 3% setelah sebelumnya jatuh sekitar 10%. Penguatan ini terjadi setelah investor mulai mencari peluang beli, meski kekhawatiran terhadap reli saham berbasis kecerdasan buatan atau AI masih belum hilang.
Tekanan utama pasar masih datang dari sektor semikonduktor dan chip memori. Nasdaq 100 sebelumnya turun 3,3%, sementara S&P 500 melemah 1,4% akibat aksi jual pada saham-saham teknologi besar. Investor kini menunggu laporan keuangan Micron Technology yang akan menjadi petunjuk penting apakah permintaan infrastruktur AI masih cukup kuat untuk menopang reli tahun ini. Saham Micron sendiri anjlok 13% pada Selasa, meskipun sepanjang 2026 masih mencatat kenaikan lebih dari 250%.
Pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah belanja besar perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI benar-benar bisa menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Kekhawatiran ini semakin kuat setelah muncul laporan bahwa SK Hynix mengalihkan fokus ke produk chip yang lebih murah. Analis BTIG Jonathan Krinsky menilai saham teknologi dan AI masih memiliki risiko penurunan jangka menengah, dengan potensi koreksi tambahan sekitar 10% hingga 15% pada kelompok semikonduktor.
Di luar sektor teknologi, harga minyak Brent bergerak di bawah US$77 per barel setelah lalu lintas tanker di Selat Hormuz mulai lebih terlihat usai kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. Dolar AS juga cenderung stabil setelah menguat dua hari, sementara obligasi pemerintah AS naik karena pelemahan saham dan turunnya harga minyak dianggap dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Di Asia Tenggara, aset Indonesia ikut menjadi perhatian setelah MSCI kembali menunda peninjauan pasar saham Indonesia untuk menilai efektivitas reformasi transparansi yang baru diumumkan.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id