Emas Turun, Terkunci di Hormuz dan Ini Arah Berikutnya!
Emas melemah setelah serangan AS di Selat Hormuz mengurangi optimisme bahwa jalur pelayaran itu segera dibuka kembali lewat negosiasi AS-Iran. Ketika risiko gangguan pasokan energi kembali naik, pasar juga menilai risiko inflasi tetap tinggi, membuat ruang pemulihan emas lebih terbatas.
Dari sisi fundamental, kanal utamanya datang dari energi. Brent dilaporkan naik lebih dari 2% setelah serangan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih lama, dan kenaikan minyak biasanya memperkuat tekanan inflasi. Di titik ini, emas menghadapi dua arus yang saling tarik-menarik: dukungan sebagai aset lindung nilai saat ketegangan meningkat, tetapi tertekan jika inflasi mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
Narasi suku bunga kembali dominan karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Sejak konflik pecah akhir Februari, emas sudah turun sekitar 14% dan pasar sempat menaikkan taruhan kenaikan suku bunga ketika energi melonjak dan memanaskan ekspektasi inflasi. Dengan dolar yang cenderung sedikit lebih kuat, tekanan tambahan ke emas juga muncul karena harga emas dihitung dalam dolar.
Secara teknikal, Dengan harga emas running di 4.535, level teknikal terdekat yang dipantau di sisi bawah adalah 4.520–4.515 sebagai support awal; jika tembus, fokus berikutnya bergeser ke 4.500 (psikologis), lalu potensi lanjutan ke 4.470–4.460. Di sisi atas, resistance terdekat berada di 4.550–4.560; bila harga mampu menembus dan bertahan di atas zona ini, ruang naik terbuka ke 4.585–4.600, dengan target lanjutan 4.630–4.650 jika momentum menguat, sementara selama harga masih tertahan di bawah 4.550–4.560, bias jangka sangat pendek cenderung konsolidasi dengan tekanan turun moderat.
Jika tekanan berlanjut dan harga gagal bertahan di sekitar zona tersebut, pasar biasanya membaca itu sebagai sinyal bahwa momentum turun masih aktif. Sebaliknya, pemantulan dari area ini akan membuka ruang konsolidasi, tetapi pemulihan yang lebih meyakinkan tetap membutuhkan sentimen yang lebih stabil, terutama bila korelasi emas dengan aset berisiko masih kuat.
Untuk arah berikutnya, pasar akan memantau tiga pemicu: perkembangan negosiasi AS-Iran dan keamanan Hormuz (apakah kembali membaik atau makin terganggu), respons harga minyak yang menentukan tekanan inflasi, serta pergerakan dolar yang bisa memperkuat atau meredakan tekanan pada emas.(asd)
Sumber : Newsmaker.id