
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Mata uang euro kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026), menyusul meningkatnya ketidakpastian politik di Prancis serta tingginya harga energi global. Gelombang kerusuhan yang melanda Prancis sepanjang akhir pekan memperburuk kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi kawasan Eropa. Kondisi tersebut mendorong euro melemah 0,25% terhadap dolar Amerika Serikat ke level US$1,1210, sementara indeks dolar AS menguat 0,26% menuju 102,05.
Ketegangan politik Prancis semakin menjadi perhatian setelah Presiden Emmanuel Macron menolak tawaran pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyusul kerusuhan besar yang terjadi selama akhir pekan. Ketidakpastian tersebut turut memengaruhi pasar obligasi Eropa, terutama setelah selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman sebelumnya sempat melebar hingga melampaui 150 basis poin. Pelebaran spread ini mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk memegang aset Prancis. Apabila tekanan politik terus berlanjut, kekhawatiran pasar berpotensi meluas ke negara-negara lain di zona euro dan semakin membebani pergerakan mata uang tunggal Eropa.
Selain persoalan politik, lonjakan harga energi menjadi tantangan serius bagi perekonomian Eropa. Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, sementara harga gas alam Eropa mencapai €89,13 atau level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Ketergantungan kawasan Eropa terhadap impor energi membuat kenaikan harga minyak dan gas berpotensi meningkatkan biaya produksi industri, menekan konsumsi rumah tangga, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Situasi ini menciptakan tantangan bagi European Central Bank (ECB), karena tekanan inflasi akibat energi dapat bertahan ketika aktivitas ekonomi justru menghadapi risiko perlambatan.
Di tengah tekanan tersebut, perhatian pelaku pasar mulai kembali tertuju pada arah kebijakan moneter Federal Reserve dan ECB. Pasar memperkirakan probabilitas sebesar 87% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, dengan ekspektasi pelonggaran sebesar 75 basis poin hingga akhir 2027. Meskipun kenaikan harga minyak secara fundamental cenderung mendukung dolar AS, penguatan mata uang tersebut berpotensi terbatas apabila The Fed tidak merespons tekanan inflasi dengan kebijakan moneter yang lebih agresif. Dengan demikian, perbedaan kebijakan suku bunga antara Amerika Serikat dan Eropa akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah EUR/USD selanjutnya.
Tekanan pada pasar valuta asing juga terlihat di sejumlah kawasan lainnya. Yen Jepang bergerak relatif stabil di sekitar 158,15 per dolar AS setelah Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda memberikan sinyal bahwa inflasi mendasar Jepang semakin mendekati target 2%, membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sementara itu, yuan China menguat setelah pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga melampaui perkiraan pasar. Di Indonesia, rupiah masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa ketidakpastian geopolitik, kondisi energi global, dan kebijakan moneter masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan mata uang dunia.
Newsmaker menilai pelemahan euro mencerminkan meningkatnya risiko ekonomi Eropa akibat kombinasi ketidakstabilan politik Prancis dan lonjakan harga energi. Kedua faktor tersebut berpotensi menciptakan tekanan ganda bagi kawasan euro, yakni meningkatnya inflasi di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Sumber: Newsmaker.id