
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat pada perdagangan Senin (31/8) setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Brent bergerak di atas US$91 per barel, sementara West Texas Intermediate menembus US$86 per barel. Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam sekitar satu bulan. Reuters mencatat Brent sempat naik lebih dari 3% ke sekitar US$91,25 per barel, sementara WTI naik ke sekitar US$86,36.
Pasukan AS sebelumnya menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz. Washington menyatakan peluncur tersebut diduga tengah dipersiapkan untuk mendukung pemasangan ranjau di jalur pelayaran. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke posisi militer AS di Yordania, meskipun sebagian besar serangan dilaporkan berhasil dicegat.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran melaporkan sebuah kapal tanker besar terkena ranjau ketika mencoba melewati Selat Hormuz. Namun, laporan mengenai serangan terhadap kapal tersebut belum sepenuhnya terverifikasi secara independen. Situasi ini kembali menyoroti pentingnya Hormuz sebagai jalur utama pengiriman minyak global dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan.
Meski risiko geopolitik meningkat, minyak masih terus mengalir melalui Selat Hormuz. Reuters melaporkan arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut mulai pulih ke sekitar 15–16 juta barel per hari, meski masih berada di bawah level sebelum konflik. Selama pengiriman tidak mengalami gangguan besar, investor cenderung menahan diri untuk mengejar harga terlalu tinggi karena khawatir reli minyak dapat berbalik apabila ketegangan mereda.
Tekanan terhadap Iran juga datang dari sisi ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan sanksi tambahan terhadap jaringan keuangan dan perdagangan Iran, sementara blokade terhadap sejumlah aktivitas pelabuhan Iran terus menekan ekspor minyak negara tersebut. Kombinasi antara tekanan ekonomi dan meningkatnya aktivitas militer membuat premi risiko geopolitik kembali masuk ke harga minyak.
Analisa Newsmaker: Pergerakan minyak saat ini sangat bergantung pada satu faktor utama, yaitu apakah aliran minyak melalui Selat Hormuz benar-benar terganggu. Selama kapal tanker masih dapat melintas, kenaikan harga berpotensi tetap terbatas meskipun konflik meningkat. Namun, apabila terjadi serangan lanjutan terhadap tanker, pemasangan ranjau, atau penutupan jalur pelayaran, premi risiko dapat melonjak dengan cepat dan membuka peluang Brent kembali bergerak lebih tinggi.
Dalam jangka pendek, Brent berpotensi tetap volatil di atas US$90. Pasar juga perlu memperhatikan hubungan minyak dengan kebijakan The Fed karena kenaikan harga energi dapat memperkuat tekanan inflasi AS. Artinya, eskalasi di Hormuz bukan hanya bullish untuk minyak, tetapi juga dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan meningkatkan volatilitas emas, dolar, serta pasar saham global.(yds)
Sumber: Newsmaker.id