
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Selasa (22/9), mencatat penurunan untuk sesi kelima berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Iran. Brent crude turun 1% ke US$99,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,2% ke US$94,59 per barel. Secara mingguan, harga minyak telah terkoreksi lebih dari 4%, meskipun masih mencatat kenaikan lebih dari 9% sepanjang bulan ini.
Sentimen negatif terhadap minyak muncul setelah Trump mengatakan AS menggelar pertemuan selama tiga jam dengan delegasi Iran di sela Sidang Umum PBB di New York. Trump menyebut pertemuan tersebut berjalan “sangat baik” dan membuka peluang adanya kesepakatan antara kedua negara. Pernyataan tersebut meningkatkan harapan pasar bahwa ketegangan geopolitik Timur Tengah dapat mereda dan risiko gangguan pasokan energi global berkurang.
Dalam pidatonya di PBB, Trump mengatakan dirinya memiliki “keputusan besar” terkait langkah berikutnya terhadap Iran, apakah mencari kesepakatan diplomatik atau mengambil tindakan lebih keras. Trump juga menyebut kemungkinan kesepakatan dapat tercapai setelah pemilu sela AS, sementara pasar tetap mencermati perkembangan hubungan Washington dan Teheran.
Selain faktor diplomasi, pasar minyak juga mendapatkan tekanan dari potensi pemulihan pasokan Arab Saudi. Riyadh dilaporkan mulai melakukan uji coba untuk mengaktifkan kembali pipa East-West yang mengalami kerusakan akibat serangan drone pada 10 September. Pipa tersebut memiliki peran penting karena memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak melalui Laut Merah tanpa sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz.
Data pengiriman minyak menunjukkan aktivitas ekspor Saudi mulai meningkat. Pelabuhan Ras Tanura mencatat aktivitas pemuatan tertinggi sejak konflik dimulai, dengan enam kapal tanker besar mengangkut hampir 12 juta barel minyak dari Ras Tanura dan Juaymah pada Senin.
Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian utama pasar. Selat Hormuz tetap menjadi jalur energi strategis dunia, sementara konflik AS-Iran belum sepenuhnya berakhir. Investor akan terus memantau apakah langkah diplomasi dapat menghasilkan kesepakatan nyata atau justru kembali meningkatkan ketegangan.
Analisis Newsmaker : Harga minyak saat ini berada di bawah tekanan karena pasar mulai melihat peluang normalisasi pasokan melalui pemulihan infrastruktur Saudi dan kemungkinan diplomasi AS-Iran. Namun, volatilitas tetap tinggi karena setiap perkembangan terkait Selat Hormuz dan konflik Timur Tengah dapat kembali memicu lonjakan harga energi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id