
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (22/9) setelah laporan mengenai peluang pembukaan kembali jalur Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan harapan pasar terhadap penyelesaian konflik Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga energi.
Harga Brent crude turun 1,2% ke level US$99,11 per barel, kembali berada di bawah batas psikologis US$100. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah lebih dalam sekitar 2,7% ke level US$93,20 per barel setelah pasar merespons laporan bahwa Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Laporan tersebut memicu aksi jual baru karena investor melihatnya sebagai sinyal awal kemungkinan deeskalasi menjelang agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini. Analis Kotak Securities Kaynat Chainwala menyebut perkembangan tersebut membuat premi risiko minyak kembali tertekan karena pasar mulai memperhitungkan peluang adanya jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi global karena merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan global dan mendorong lonjakan harga minyak.
Namun, pasar masih berhati-hati karena belum ada kesepakatan konkret antara kedua pihak. Jika pembicaraan diplomasi mengalami hambatan, risiko kenaikan kembali tetap terbuka karena ketegangan geopolitik dapat dengan cepat mengembalikan kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Newsmaker melihat, pergerakan minyak saat ini sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS–Iran. Jika pertemuan di PBB menghasilkan kemajuan nyata menuju penurunan konflik, tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut. Namun, apabila negosiasi gagal atau muncul eskalasi baru di Timur Tengah, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan dukungan akibat meningkatnya premi risiko geopolitik.
Sumber: Newsmaker.id