
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (22/9), berada di sekitar level 100,6 dan bertahan dekat level tertinggi sejak akhir Juli. Penguatan dolar masih didukung oleh sikap The Fed yang semakin hawkish, memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS masih dapat menaikkan suku bunga tambahan tahun ini.
Sentimen terhadap dolar meningkat setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral tidak dapat mengabaikan gangguan pasokan yang terjadi berulang dan berlangsung lama. Sementara Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menilai kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%, menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Bank sentral juga memberikan sinyal kemungkinan pengetatan lanjutan sebelum akhir tahun untuk menjaga tekanan harga tetap terkendali.
Di sisi lain, harga minyak dunia masih melanjutkan penurunan meskipun mulai menjauh dari level terendah hariannya. Pasar terus mencermati perkembangan diplomasi untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap pasokan energi global.
Investor juga tetap memperhatikan pergerakan yen Jepang dan kemungkinan intervensi mata uang dari pemerintah Jepang. Pelemahan yen dalam beberapa sesi terakhir meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi langkah otoritas Jepang untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Analisis Newsmaker: Dolar AS masih berada dalam tren positif karena kombinasi ekspektasi suku bunga tinggi dan pesan hawkish dari pejabat The Fed. Namun, perkembangan geopolitik Timur Tengah dan potensi intervensi Jepang menjadi faktor risiko yang dapat memicu volatilitas pasar mata uang dalam waktu dekat. (arl)
Sumber: Newsmaker.id