
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak volatil pada perdagangan Selasa (22/9), setelah investor menimbang upaya Arab Saudi untuk memulihkan aliran minyak melalui pipa utama East-West serta perkembangan diplomasi terkait konflik AS-Iran. Harga Brent sempat turun hingga 2,9% sebelum memangkas pelemahan dan diperdagangkan di sekitar US$99,74 per barel, sementara WTI naik tipis ke US$96,24 per barel.
Arab Saudi mulai melakukan tahap awal untuk mengaktifkan kembali pipa East-West yang sebelumnya terhenti akibat serangan drone pada awal bulan ini. Pipa tersebut memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari dan menjadi jalur penting bagi Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak tanpa bergantung penuh pada Selat Hormuz. Pemulihan jalur ini memberikan sedikit kelonggaran bagi pasar yang mengalami kekhawatiran pasokan dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi geopolitik, perhatian pasar tertuju pada Sidang Umum PBB di New York, terutama terkait potensi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato dengan kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan, sementara pasar masih menunggu apakah akan ada pertemuan antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela agenda PBB.
Sinyal diplomasi yang belum menghasilkan perkembangan konkret membuat tekanan jual minyak mulai berkurang. Investor sebelumnya berharap adanya kemajuan pembicaraan AS-Iran yang dapat membuka kembali akses perdagangan melalui Selat Hormuz. Namun, pernyataan keras dari kedua pihak membuat pasar tetap berhati-hati terhadap risiko eskalasi konflik.
Meski harga minyak terkoreksi dari level tertingginya, komoditas energi masih mencatat kenaikan lebih dari 65% sepanjang tahun ini akibat gangguan pasokan di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina yang turut menekan kapasitas energi global. Risiko tambahan juga datang dari serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Saudi yang berpotensi mengganggu jalur ekspor.
Analisis Newsmaker : Pasar minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara perbaikan pasokan dari Arab Saudi dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Jika pipa East-West kembali beroperasi dan diplomasi AS-Iran menunjukkan kemajuan, tekanan harga minyak dapat berlanjut. Namun, risiko gangguan di Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang dapat memicu volatilitas kembali. (arl)
Sumber: Newsmaker.id