
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (22/9) setelah mengalami penurunan selama empat sesi berturut-turut. Investor mulai kembali memperhatikan risiko geopolitik Timur Tengah serta peluang pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di sela agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Harga Brent crude futures untuk kontrak November naik sekitar 1,3% ke level US$101,59 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7% menuju US$96,45 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya Brent dan WTI mencatat penurunan tajam, masing-masing turun 3,4% dan 4,5% ke level penutupan terendah sejak 9 September.
Pergerakan minyak kembali mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang dijadwalkan hadir di New York dalam agenda PBB. Selain itu, Iran dilaporkan telah menyampaikan sejumlah syarat melalui mediator untuk kembali membuka peluang negosiasi dengan Washington.
Analis ING menilai harga minyak kembali mendapatkan dukungan dari risiko geopolitik yang masih berlangsung. Meskipun peluang diplomasi memberikan tekanan terhadap harga, ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah membuat investor tetap mempertahankan sebagian premi risiko pada pasar energi.
Di sisi pasokan, kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak mulai sedikit mereda setelah aliran ekspor Saudi Arabia melalui Selat Hormuz menunjukkan peningkatan. Data satelit yang dikutip Reuters menunjukkan pengiriman minyak Saudi melalui jalur tersebut meningkat menjadi sekitar 2,9 juta barel per hari dalam enam hari terakhir, setelah sebelumnya terganggu oleh masalah pada jalur pipa utama.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara peluang deeskalasi konflik dan risiko gangguan pasokan energi. Jika diplomasi AS–Iran menghasilkan kemajuan nyata, tekanan terhadap harga minyak dapat kembali muncul. Namun, setiap eskalasi baru terhadap fasilitas energi atau jalur perdagangan utama dapat dengan cepat mendorong minyak kembali menguat karena pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik.
Sumber: Newsmaker.id