
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah tipis pada perdagangan Selasa (22/9) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli. Pergerakan dolar mendapat tekanan setelah muncul perkembangan terkait Iran yang membuka peluang untuk kembali membuka jalur strategis Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan energi global.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama bergerak di sekitar area 100,00 setelah mencapai level tertinggi sejak 30 Juli. Meskipun mengalami koreksi, dolar masih mendapatkan dukungan kuat dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang tetap mempertahankan sikap ketat.
Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberikan sinyal bahwa masih terdapat peluang kenaikan tambahan hingga akhir tahun. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden The Fed Boston Susan Collins dan Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem, juga menegaskan bahwa kebijakan lebih ketat masih diperlukan karena risiko inflasi tetap tinggi.
Namun, sentimen terhadap dolar mulai sedikit berubah setelah Iran menyatakan bersedia membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan syarat Amerika Serikat menghentikan operasi militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Perkembangan tersebut mendorong penurunan harga minyak karena pasar melihat potensi berkurangnya risiko gangguan pasokan energi.
Penurunan harga minyak menjadi faktor penting karena dapat mengurangi tekanan inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak memperketat kebijakan secara agresif, sekaligus membatasi kenaikan imbal hasil obligasi AS yang sebelumnya mendukung penguatan dolar.
Newsmaker melihat, arah dolar saat ini masih berada dalam tarik-menarik antara dua kekuatan utama. Sikap hawkish The Fed dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi fondasi pendukung USD, tetapi peluang deeskalasi konflik Timur Tengah dapat mengurangi permintaan terhadap aset safe haven. Pasar kini akan mencermati perkembangan negosiasi Iran–AS serta komentar pejabat The Fed berikutnya untuk menentukan arah dolar selanjutnya.
Sumber: Newsmaker.id