
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat pada perdagangan Senin (21/9), naik sekitar 0,18% ke level 100,40 dan mencatat kenaikan sekitar 2,22% sepanjang tahun berjalan. Penguatan dolar masih didukung oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat setelah bank sentral AS memberikan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Sepanjang pekan terakhir, indeks dolar berhasil menguat sekitar 0,71% setelah sempat menyentuh level 100,40 pada Jumat, tertinggi dalam enam pekan terakhir. Pergerakan tersebut didorong oleh keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%, serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Dari pasar obligasi, yield Treasury AS bergerak relatif stabil dengan yield 10 tahun bertahan di sekitar 5%, sementara yield 2 tahun naik sekitar 7 basis poin ke level 4,75%. Kenaikan yield jangka pendek menunjukkan pasar masih memperhitungkan kemungkinan kebijakan The Fed tetap agresif dalam menghadapi tekanan inflasi.
Sementara itu, yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan terhadap dolar. Yen melemah melewati level 157 per dolar, meskipun Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke 1,25%, level tertinggi sejak 1995. Pasar menilai laju pengetatan BoJ masih berpotensi tertinggal dibandingkan The Fed, sehingga perbedaan kebijakan moneter tetap mendukung dolar AS.
Poundsterling juga masih berada dalam tekanan dan melemah sekitar 0,17%. Investor mencermati keputusan Bank of England (BoE) yang mempertahankan suku bunga, namun memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membuka peluang kebijakan moneter yang lebih ketat.
Analisis Newsmaker: Pergerakan dolar AS saat ini masih ditentukan oleh ekspektasi suku bunga dan perbedaan kebijakan antarbank sentral global. Sikap hawkish The Fed memberikan dukungan bagi DXY, sementara pelemahan yen akibat ekspektasi perlambatan pengetatan BoJ turut memperkuat posisi dolar. Ke depan, pasar akan mencermati pidato pejabat The Fed serta data ekonomi AS untuk melihat apakah peluang kenaikan bunga tambahan semakin kuat atau mulai berkurang. (arl)
Sumber: Newsmaker.id