
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9), memperpanjang tren penurunan setelah aliran minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan pemulihan dan perkembangan diplomasi konflik AS-Iran mulai meredakan kekhawatiran pasar. Brent turun 4,5% ke US$99,18 per barel, sementara WTI melemah 5,8% ke US$94,50 per barel. Penurunan ini membawa minyak menuju rangkaian pelemahan terpanjang sejak Juni.
Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah data satelit menunjukkan aktivitas pengiriman minyak Arab Saudi dari kawasan Teluk Persia kembali meningkat. Jumlah kapal yang melakukan aktivitas di pelabuhan utama Saudi tercatat menjadi yang tertinggi sejak Juni, mengindikasikan bahwa Saudi mulai kembali mengandalkan jalur Selat Hormuz setelah sebelumnya mengalami gangguan pada pipa East-West akibat serangan drone.
Selain faktor pasokan, pasar juga merespons perkembangan diplomasi di tengah konflik Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini. Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping serta sejumlah pemimpin negara Teluk untuk membahas isu geopolitik dan ekonomi.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan. Di sisi lain, Arab Saudi tetap menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran setelah Riyadh mengeluarkan peringatan serangan udara untuk wilayah ibu kota dan sejumlah pusat energi seperti Yanbu.
Perhatian pasar juga tertuju pada kondisi bahan bakar global, khususnya diesel yang masih mengalami tekanan pasokan. Harga diesel di Amerika Serikat mencatat rekor baru di atas US$6,50 per galon, sementara kontrak berjangka diesel dan bensin ikut mengalami penurunan pada perdagangan Senin. Sementara itu, aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir dengan sekitar 32 kapal per hari melintas menggunakan dukungan keamanan.
Analisis Newsmaker: Penurunan harga minyak saat ini menunjukkan pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik setelah melihat adanya pemulihan aliran energi dan peluang diplomasi. Namun, risiko gangguan pasokan masih tetap menjadi perhatian karena konflik Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir. Ke depan, arah minyak akan sangat bergantung pada perkembangan pertemuan diplomatik AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, serta kemampuan negara produsen menjaga stabilitas ekspor. (arl)
Sumber: Newsmaker.id