
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bertahan kuat pada perdagangan Selasa (22/9), meskipun pergerakan berlangsung volatil akibat ketidakpastian harga minyak dan perkembangan diplomasi Amerika Serikat dengan Iran. Indeks dolar AS (DXY) naik 0,17% ke level 100,59, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dua bulan di 100,70, level tertinggi sejak 30 Juli.
Pergerakan dolar sempat berfluktuasi setelah harga minyak dunia mengalami perubahan arah. Harga minyak turun sekitar 1% setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat Amerika Serikat menggelar pertemuan “sangat baik” selama tiga jam dengan delegasi Iran di sela Sidang Umum PBB. Harapan terhadap kemungkinan kesepakatan AS-Iran sempat menekan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran inflasi global.
Namun, optimisme tersebut kembali terbatas setelah Trump dalam pidatonya di PBB mengatakan kesepakatan dengan Iran kemungkinan baru dapat tercapai setelah pemilu sela AS pada awal November. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali berhati-hati karena konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga energi dan prospek inflasi.
Euro melemah terhadap dolar, dengan EUR/USD turun 0,18% ke level 1,1441. Investor masih melihat perbedaan arah kebijakan moneter sebagai faktor utama, terutama setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan yang cukup.
Presiden The Fed Boston Susan Collins mengatakan dirinya mendukung kenaikan suku bunga terbaru karena risiko inflasi tetap berada di atas target 2%. Sementara itu, Presiden The Fed Richmond Tom Barkin menilai tekanan inflasi tidak hanya berasal dari energi dan tarif, tetapi juga dari kondisi ekonomi AS yang masih cukup kuat.
Di sisi lain, yen Jepang masih berada di bawah tekanan. USD/JPY naik tipis 0,03% ke 157,41, melanjutkan penguatan tiga sesi berturut-turut. Investor menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pekan lalu belum cukup untuk mempersempit perbedaan suku bunga dengan negara lain, terutama karena adanya dua anggota dewan yang menentang kenaikan agresif.
Sementara itu, pound Inggris kembali melemah dengan GBP/USD turun 0,23% ke 1,3332, mencatat penurunan kedua berturut-turut dan menjadi pelemahan keenam dalam tujuh sesi terakhir.
Analisis Newsmaker : Dolar AS masih mendapatkan dukungan dari ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat dan kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah. Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran, pergerakan harga minyak, serta komentar lanjutan pejabat The Fed terkait peluang kenaikan suku bunga berikutnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id