
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga sejumlah jenis minyak mentah melemah pada perdagangan Jumat (11/9) setelah aktivitas pengeboran Amerika Serikat meningkat dan upaya diplomatik terkait pelayaran melalui Selat Hormuz menunjukkan kemajuan. Perkembangan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi.
Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak AS bertambah satu menjadi 450 unit pada pekan ini. Peningkatan aktivitas pengeboran biasanya dipandang sebagai indikasi potensi kenaikan produksi di masa mendatang, sehingga memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Sentimen juga membaik setelah muncul laporan bahwa menteri luar negeri negara-negara Teluk berencana bertemu dengan Iran. Oman dan Iran disebut sedang mencari dukungan untuk kesepakatan sementara yang memungkinkan lalu lintas kapal kembali melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, risiko pasokan belum sepenuhnya mereda. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, memperkuat posisinya di salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Perkembangan tersebut menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi.
International Energy Agency juga memperkirakan pasokan dan permintaan minyak global akan turun lebih dalam dari perkiraan sebelumnya akibat perang. Pasokan dunia pada 2026 diproyeksikan berkurang sekitar 5,7 juta barel per hari atau hampir 6%. CEO Chevron Mike Wirth turut memperingatkan bahwa bantalan pasokan yang sebelumnya menahan kenaikan harga mulai terkuras sehingga konflik berkepanjangan masih dapat mendorong minyak lebih tinggi.
Di pasar fisik AS, Light Louisiana Sweet untuk pengiriman Oktober turun 50 sen menjadi premium sekitar US$6 per barel terhadap minyak mentah berjangka AS. Rentang penawaran tercatat berada pada premium US$5,50 hingga US$6,50 per barel.
Analisa Newsmaker: koreksi minyak saat ini lebih banyak dipicu oleh kombinasi meningkatnya potensi produksi AS dan harapan diplomasi Hormuz. Namun, ancaman terhadap Bab el-Mandeb, stok global yang menipis, serta gangguan pasokan akibat konflik membuat fundamental minyak belum sepenuhnya bearish. Kemajuan nyata dalam pembukaan kembali Hormuz akan menjadi kunci untuk menekan premi geopolitik lebih jauh.
Sumber: Newsmaker.id