
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak masih bergerak kuat pada perdagangan Jumat (11/9), dengan Brent berada di sekitar US$108–109 per barel dan WTI di kisaran US$103. Kenaikan tajam ini masih ditopang oleh meningkatnya serangan di jalur pelayaran penting Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, serta eskalasi konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman. Lalu lintas kapal melalui Hormuz bahkan turun tajam, sementara pasar semakin khawatir bahwa gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama.
Dari sisi fundamental, sentimen minyak masih cenderung bullish karena gangguan pasokan belum menunjukkan tanda mereda. Produksi OPEC pada Agustus turun sekitar 640 ribu barel per hari, terutama akibat hambatan ekspor dari kawasan Timur Tengah. Namun, ada faktor penahan dari sisi permintaan: OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi hanya 380 ribu barel per hari, sehingga pasar tetap mewaspadai bahwa harga yang terlalu tinggi bisa mulai merusak permintaan.
Dari sisi teknikal, struktur harga masih menunjukkan momentum naik yang kuat setelah Brent menembus level psikologis US$100 dan kemudian melanjutkan rally ke atas US$108. Selama harga bertahan di atas area US$105–106, bias jangka pendek masih bullish. Resistance terdekat berada di area US$110, dan jika level ini ditembus dengan momentum kuat, ruang kenaikan berikutnya bisa terbuka menuju US$112–115.
Sebaliknya, setelah kenaikan hampir 13% dalam sepekan, risiko profit taking juga mulai meningkat. Jika Brent gagal bertahan di atas US$105, koreksi dapat mengarah ke area US$102–100. Level US$100 sekarang menjadi support psikologis penting; selama area tersebut masih bertahan, koreksi masih bisa dianggap sebagai pullback dalam tren naik.
Secara keseluruhan, minyak masih memiliki bias bullish, dengan geopolitik dan gangguan pasokan sebagai katalis utama. Namun, setelah rally yang sangat cepat, pasar perlu mewaspadai koreksi teknikal. Selama ketegangan di Hormuz belum mereda dan arus pengiriman masih terganggu, tekanan naik pada Brent kemungkinan tetap dominan.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id