
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (11/9), dengan Brent bertahan dekat US$108 per barel setelah konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan pasukan yang didukung Arab Saudi kembali meningkat. Eskalasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang lebih luas di Timur Tengah.
Brent kontrak November naik sekitar 0,5% menjadi US$108,13 per barel pada perdagangan pagi Asia, sementara WTI untuk pengiriman Oktober menguat 0,6% ke US$103,05. Secara mingguan, Brent telah melonjak hampir 13% dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak Juli.
Ketegangan meningkat setelah Houthi yang didukung Iran memperluas pergerakannya ke wilayah pesisir yang dekat dengan Selat Bab al-Mandeb. Posisi yang lebih kuat di sekitar Mocha dinilai dapat meningkatkan kemampuan kelompok tersebut untuk mengganggu lalu lintas kapal di salah satu jalur pelayaran energi paling penting dunia.
Risiko pasokan juga tetap tinggi karena konflik AS–Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan terhadap tanker Iran, gangguan terhadap fasilitas energi Saudi, serta ancaman terhadap kapal di sekitar Teluk dan Laut Merah membuat arus energi Timur Tengah tetap jauh dari kondisi normal.
Permintaan China turut memperketat pasar setelah pembelian minyak mentah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dengan persediaan global yang menipis dan tanda-tanda pemulihan permintaan dari importir minyak terbesar dunia tersebut, gangguan baru dari Timur Tengah berpotensi mendorong harga kembali mendekati puncak perang di atas US$126 per barel.
Ancaman terhadap pelayaran juga masih nyata. Dua kapal dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di sebelah barat Khasab, Oman, pada 10 September. Kondisi tersebut menunjukkan risiko keamanan kapal masih tinggi meskipun sebagian minyak tetap keluar dari Teluk Persia.
Bias minyak tetap kuat selama konflik Houthi–Saudi dan AS–Iran terus meningkat. Brent yang sudah naik hampir 13% dalam sepekan menunjukkan pasar mulai memperhitungkan perang yang lebih lama dan gangguan pasokan yang lebih serius. Jika Bab al-Mandeb dan Hormuz sama-sama terganggu, tekanan bullish dapat semakin besar. Namun, harga yang terlalu tinggi tetap berisiko menekan permintaan dan menjadi faktor pembatas reli berikutnya.