
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak turun pada perdagangan Jumat (11/9) setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei. Brent melemah 3,21% ke sekitar US$104,18 per barel, sementara WTI turun 2,89% ke US$99,52 per barel. Meski terkoreksi, kedua benchmark masih berada di jalur kenaikan lebih dari 8% sepanjang pekan karena kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah belum mereda.
Tekanan jual muncul setelah laporan menyebut sejumlah menteri luar negeri di kawasan Timur Tengah tengah mengupayakan kesepakatan sementara dengan Iran untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, risiko kenaikan harga masih tinggi setelah serangan terhadap jalur pelayaran meningkat tajam. Brent dan WTI sebelumnya melonjak lebih dari 6% pada Kamis akibat eskalasi serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut.
Ketegangan juga mulai meluas ke jalur energi Saudi. Citra satelit menunjukkan adanya asap di sekitar East-West Pipeline Arab Saudi, jalur penting yang digunakan untuk mengalihkan ekspor minyak dari Hormuz. International Energy Agency mencatat pasokan minyak Saudi turun sekitar 2,3 juta barel per hari menjadi 6 juta barel per hari pada Agustus, level terendah dalam lebih dari tiga dekade, setelah sejumlah fasilitas energi negara tersebut terkena serangan.
Risiko terhadap jalur perdagangan global turut meningkat setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb. Sementara itu, Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Hormuz setelah AS menghantam lima tanker minyak Iran. Jumlah kapal yang melintasi Hormuz turun menjadi hanya tujuh pada Kamis, dibandingkan 11 sehari sebelumnya, memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama.
Dampak konflik mulai terlihat pada harga bahan bakar. Harga rata-rata diesel AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, dipicu kombinasi gangguan pasokan akibat perang Iran dan serangan Ukraina terhadap kilang Rusia. Commerzbank kemudian menaikkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$85 per barel dari US$75, sekaligus menaikkan proyeksi harga diesel dan bahan bakar jet.
Analisa Newsmaker : Koreksi minyak pada Jumat lebih mencerminkan aksi ambil untung dan munculnya harapan diplomasi, bukan perubahan fundamental yang signifikan. Selama arus kapal di Hormuz dan Bab el-Mandeb masih terganggu, risiko pasokan tetap tinggi sehingga harga minyak berpotensi bertahan volatil. Lonjakan harga energi juga dapat menjaga tekanan inflasi global, mendorong yield obligasi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed maupun ECB. Kondisi tersebut berpotensi menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar, obligasi, serta emas dalam beberapa sesi berikutnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id