
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas naik di atas US$4.350 per troy ounce pada perdagangan Jumat (11/9), namun masih berada di jalur pelemahan hampir 2% sepanjang pekan. Jika bertahan hingga penutupan, emas akan mencatat penurunan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut, seiring investor mencerna data inflasi terbaru Amerika Serikat menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan depan.
Inflasi AS secara tahunan bertahan di 3,4% pada Agustus, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, CPI naik 0,4%, menjadi kenaikan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Tekanan inflasi terutama menjadi perhatian setelah harga energi meningkat tajam akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan minyak.
Perhatian utama pasar tertuju pada Core CPI, yang naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dibanding perkiraan 0,2% dan menjadi kenaikan terbesar sejak April. Secara tahunan, Core CPI melandai menjadi 2,4% dari 2,5%, level terendah sejak Maret 2021. Meski inflasi inti tahunan menunjukkan perlambatan, kenaikan bulanan yang lebih kuat menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Data tersebut melengkapi laporan PPI sebelumnya yang juga menunjukkan kenaikan tekanan harga produsen pada Agustus, terutama akibat melonjaknya biaya energi setelah konflik Iran mengganggu pasokan. Sementara itu, data tenaga kerja AS pekan lalu masih menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang relatif kuat, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pasar kini meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Fed pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool dalam data terbaru, probabilitas kenaikan suku bunga meningkat menjadi sekitar 90%, jauh lebih tinggi dibanding sekitar 70% sebelum rilis CPI.
Di sisi lain, penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi emas untuk pulih. Brent turun sekitar 3,2% ke US$104,18 per barel, sementara WTI melemah hampir 2,9% ke US$99,52, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Mei. Meski terkoreksi, kedua benchmark masih menuju kenaikan lebih dari 8% sepanjang pekan akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.
Analisa Newsmaker : Kenaikan emas menuju US$4.350 menunjukkan buyer masih bertahan meskipun ekspektasi Fed hike meningkat tajam. Namun, kombinasi Core CPI yang lebih panas, inflasi energi tinggi, serta pasar tenaga kerja yang masih kuat dapat menjaga yield Treasury dan dolar tetap tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan permintaan safe haven masih dapat memberikan dukungan, sehingga pergerakan emas menjelang keputusan Fed diperkirakan tetap volatil. (arl)
Sumber: Newsmaker.id