
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Jumat (11/9), bangkit dari tekanan tajam sesi sebelumnya setelah investor memanfaatkan penurunan harga untuk melakukan pembelian. Spot gold naik sekitar 1,1% ke US$4.363,01 per troy ounce, meski secara mingguan masih melemah sekitar 1,5%.
Pemulihan tersebut menunjukkan bahwa emas mulai menemukan dasar jangka pendek setelah koreksi beberapa hari terakhir. Kontrak emas berjangka AS ditutup hampir tidak berubah di sekitar US$4.408,90 per troy ounce, setelah pada Kamis harga spot sempat tertekan hampir 2% menyusul rilis data PPI AS.
Data Consumer Price Index AS menunjukkan inflasi headline naik 0,4% secara bulanan pada Agustus, setelah hanya meningkat 0,1% pada Juli. Hasil tersebut semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 87% untuk kenaikan suku bunga The Fed, meningkat tajam dari sekitar 67% sebelum rilis data inflasi. Secara teori, ekspektasi suku bunga lebih tinggi menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil.
Namun, aksi beli saat harga turun membantu meredam tekanan. Di sisi lain, harga minyak memang terkoreksi, tetapi masih berada di jalur mencatat kenaikan mingguan kuat. Risiko inflasi energi tetap tinggi dan menjaga permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai.
Logam mulia lainnya ikut menguat. Silver naik 1,6% ke US$64,54 per troy ounce, platinum bertambah sekitar 1% ke US$1.792,11, sementara palladium melonjak 2,1% menjadi US$1.308,63. Meski begitu, seluruhnya masih menuju pelemahan mingguan.
Analisa Newsmaker: rebound Gold menunjukkan mulai munculnya minat beli kuat setelah koreksi tajam. Namun, peluang hike The Fed yang sudah mencapai 87% masih menjadi risiko utama. Selama emas mampu mempertahankan area dasar terbaru, peluang pemulihan tetap terbuka, tetapi penguatan yield dan dolar dapat kembali membatasi kenaikan.
Sumber: Newsmaker.id