
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran menegaskan masih akan membuka jalur dialog dengan AS meskipun hubungan kedua negara tetap tegang. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tetap mencari penyelesaian melalui diplomasi, sementara pada saat yang sama pemerintah juga berupaya mengatasi berbagai persoalan ekonomi dan dunia usaha di dalam negeri.
Pezeshkian juga menyebut Iran tengah mendorong perluasan jalur perdagangan darat dengan sejumlah negara tetangga, termasuk Pakistan, Turkmenistan, dan Irak. Langkah tersebut dilakukan ketika tekanan ekonomi akibat konflik dan sanksi masih membebani aktivitas perdagangan Iran.
Upaya diplomasi AS–Iran masih berlangsung melalui mediator, termasuk Qatar. Menurut sebuah sumber melaporkan pembicaraan terbaru berfokus pada versi yang telah diubah dari proposal tujuh hari Iran, termasuk isu gencatan senjata, blokade terhadap pelabuhan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, kedua pihak masih memiliki perbedaan besar mengenai tahapan dan persyaratan kesepakatan.
Di sisi lain, prospek tercapainya kesepakatan masih penuh ketidakpastian. Sejumlah pejabat Iran mengatakan Teheran tetap menjalankan jalur diplomasi, tetapi juga mempersiapkan respons militer yang lebih kuat apabila serangan besar kembali terjadi dan menyebut perencanaan tersebut dapat mencakup kepentingan AS dan sekutunya di luar kawasan Timur Tengah.
Program nuklir juga masih menjadi salah satu titik perbedaan utama. Iran menyatakan pembicaraan nuklir baru dapat dilanjutkan setelah sejumlah persyaratan terkait penghentian konflik dipenuhi, sementara Washington tetap memasukkan isu tersebut dalam agenda diplomasi. Pada saat yang sama, tekanan ekonomi dan sanksi terus menambah beban terhadap perekonomian Iran.
Analisis Newsmaker:
Pernyataan Iran yang tetap membuka ruang dialog memberikan sedikit harapan terhadap deeskalasi, tetapi pasar belum memiliki kepastian mengenai hasil perundingan. Selama perbedaan mengenai Selat Hormuz, sanksi, dan program nuklir belum terselesaikan, risiko geopolitik tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi harga minyak, inflasi global, dolar AS, serta aset safe haven seperti emas.
Sumber: Newsmaker.id