
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Konflik di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Abha, menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Otoritas penerbangan sipil Saudi mengonfirmasi adanya korban serta kerusakan pada fasilitas, sementara Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Eskalasi ini terjadi ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi tengah melakukan ofensif untuk merebut kembali wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb. The News
Arab Saudi merespons dengan meningkatkan serangan terhadap posisi Houthi di Yaman. Koalisi pimpinan Saudi mengatakan telah menghancurkan lebih dari 80 target militer Houthi di sejumlah wilayah, termasuk fasilitas penyimpanan rudal dan pusat komando. Saudi juga menyatakan telah mencegat rudal balistik yang diluncurkan menuju wilayah Riyadh. Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada medan perang di Yaman, tetapi mulai memberikan dampak langsung terhadap infrastruktur sipil dan transportasi regional. Internazionale
Dari sisi pasar, perkembangan tersebut menjadi perhatian karena Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dan pelayaran global. Pertempuran di sekitar kawasan tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap kapal tanker yang melewati Laut Merah, terutama ketika jalur Selat Hormuz juga menghadapi gangguan akibat konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Jika kedua jalur tersebut mengalami gangguan signifikan secara bersamaan, risiko keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya transportasi energi dapat meningkat. Reuters
Tekanan terhadap harga minyak pun berpotensi kembali meningkat apabila serangan mulai menyasar fasilitas energi atau menghambat pergerakan kapal tanker. Sebelumnya, pemulihan arus minyak dari Timur Tengah sempat meredakan premi risiko geopolitik. Namun, meningkatnya serangan terhadap kapal dan infrastruktur di sekitar Saudi serta Bab el-Mandeb dapat membuat pasar kembali memasukkan risiko gangguan pasokan ke dalam harga. Hal ini menjadi semakin penting karena Brent masih berada di sekitar level US$100 per barel.
Analisa Newsmaker :
Eskalasi terbaru di Yaman menjadi risiko bullish bagi minyak sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global. Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati apakah serangan Houthi meluas ke fasilitas energi dan jalur pelayaran utama. Jika tidak mengganggu arus minyak secara signifikan, kenaikan harga kemungkinan tetap terbatas. Namun, apabila Bab el-Mandeb atau fasilitas energi Saudi mulai mengalami gangguan besar, premi risiko geopolitik dapat meningkat tajam dan mendorong harga minyak kembali lebih tinggi.
Sumber: Newsmaker.id