
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak lagi terlalu tertarik mengejar kesepakatan dengan Iran, di tengah laporan bahwa Washington sedang menyiapkan opsi militer baru terhadap Teheran. Dalam kampanye di San Antonio, Texas, Trump mengatakan Iran bersedia menawarkan banyak hal untuk menghentikan konflik, tetapi dirinya tidak lagi melihat kesepakatan sebagai pilihan yang ia inginkan.
Ketegangan meningkat setelah Axios melaporkan Pentagon telah diminta mematangkan persiapan untuk kemungkinan operasi militer besar terhadap Iran. Opsi yang sedang dibahas mencakup serangan terhadap fasilitas nuklir, infrastruktur energi, dan target strategis lainnya. Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa belum ada keputusan final dari Trump mengenai pelaksanaan serangan.
Situasi ini muncul ketika perang AS-Iran telah berlangsung selama berbulan-bulan dan menjadi faktor penting bagi pasar energi global. Reuters melaporkan konflik tersebut terus mengganggu pasar energi dan menjadi isu politik domestik menjelang pemilu paruh waktu AS, terutama karena tingginya harga bahan bakar dan biaya hidup.
Di sisi lain, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Wakil Presiden JD Vance sebelumnya mengatakan Washington masih menuntut pengurangan signifikan kapasitas pengayaan uranium Iran sebagai syarat untuk mengakhiri perang, sementara Teheran mempertahankan haknya atas pengayaan nuklir. Perbedaan tersebut membuat prospek penyelesaian diplomatik tetap sulit.
Pasar minyak juga mencermati perkembangan ini dengan sangat hati-hati. Meski ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih mendekati tingkat sebelum konflik, ancaman serangan baru terhadap Iran dapat kembali meningkatkan risiko terhadap fasilitas energi dan jalur pengiriman utama di kawasan, termasuk Selat Hormuz.
Analisis Newsmaker: Meningkatnya opsi militer AS terhadap Iran berpotensi mengembalikan premi risiko geopolitik ke pasar minyak. Jika ketegangan meningkat tanpa gangguan nyata pada pasokan, kenaikan harga bisa tetap terbatas. Namun, jika fasilitas energi atau jalur ekspor terdampak langsung, pasar dapat dengan cepat memperhitungkan risiko pasokan yang lebih besar, yang berpotensi mendorong minyak naik sekaligus meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Sumber: Newsmaker.id