
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan telah memerintahkan Komando Pusat AS (US Central Command) untuk menyelesaikan persiapan menghadapi kemungkinan dimulainya kembali operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Mengutip laporan Axios pada Rabu (7/10), instruksi tersebut diberikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai pelaksanaan serangan, sementara waktu operasi militer juga belum ditentukan.
Sejumlah pejabat AS dan Israel menyebutkan bahwa operasi militer baru berpotensi dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu AS, meskipun kemungkinan tersebut dinilai relatif kecil. Peluang serangan diperkirakan meningkat setelah pemilu berlangsung. Jika dilaksanakan, operasi gabungan AS dan Israel diperkirakan dapat menyasar fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta sejumlah instalasi strategis Iran. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik dan munculnya aksi balasan dari Teheran.
Di tengah perkembangan tersebut, Trump dilaporkan kembali berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu, menandai pembicaraan kedua dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, upaya diplomatik melalui mediasi Qatar belum menunjukkan kemajuan berarti. Pemerintah Iran dilaporkan belum memberikan tanggapan terhadap proposal balasan AS yang menuntut konsesi terkait program nuklirnya. Ketidakpastian diplomatik dan meningkatnya kesiapan militer kedua pihak memperbesar risiko gangguan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama jalur perdagangan energi internasional.
Dampaknya terhadap pasar, meningkatnya ancaman serangan AS terhadap Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan dan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Harga minyak Brent bahkan telah menembus US$100 per barel di tengah ketegangan kawasan dan gangguan produksi AS. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan permintaan emas (XAU/USD) sebagai aset lindung nilai, meskipun penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi membatasi kenaikannya. Sementara itu, indeks saham global berisiko mengalami tekanan akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) dan kekhawatiran inflasi. Investor akan terus mencermati keputusan Washington serta respons Iran untuk mengantisipasi arah pergerakan pasar berikutnya. (CP)