
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Kelompok Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan tiga operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi. Menurut pernyataan juru bicara Houthi Yahya Saree, serangan tersebut menyasar bandara, fasilitas minyak, dan instalasi militer di beberapa wilayah Saudi.
Operasi pertama disebut menargetkan King Khalid International Airport di Riyadh. Houthi mengklaim serangan mengenai sasaran dan sempat mengganggu lalu lintas penerbangan. Operasi kedua disebut mengarah ke fasilitas penyulingan milik Aramco di Rabigh, wilayah Mekkah, yang menurut klaim kelompok tersebut memicu kebakaran.
Dalam operasi ketiga, Houthi menyebut Bandara Abha, pangkalan Khamis Mushait, kamp Akfa, serta sejumlah lokasi lain di Najran dan Jazan sebagai sasaran. Kelompok itu mengatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya serangan Saudi ke wilayah Yaman yang mereka kuasai.
Di saat yang sama, media Israel melaporkan bahwa Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, baik dengan koordinasi bersama Amerika Serikat maupun secara independen. Perkembangan ini menambah kekhawatiran bahwa konflik regional dapat kembali melebar dan melibatkan lebih banyak negara.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan optimisme terhadap operasi yang dipimpin Arab Saudi dan pasukan Yaman yang didukung Riyadh terhadap Houthi. Namun, meningkatnya aktivitas militer di kawasan tetap membuat risiko terhadap jalur pelayaran, fasilitas energi, dan pasokan minyak global tetap tinggi.
Analisis Newsmaker: Klaim serangan Houthi terhadap fasilitas Saudi berpotensi meningkatkan kembali premi risiko geopolitik di pasar energi. Jika ancaman terhadap fasilitas minyak atau jalur pelayaran utama meningkat, harga minyak dapat memperoleh dukungan meskipun pasokan Teluk mulai pulih. Pasar akan mencermati respons Arab Saudi, perkembangan konflik Yaman, serta kemungkinan eskalasi baru antara Israel dan Iran. (asd)
Sumber: Newsmaker.id