
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Gubernur Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, menegaskan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%. Namun, Waller menekankan bahwa kenaikan tersebut tidak harus dilakukan secara berturut-turut dalam setiap pertemuan. Pernyataan yang disampaikan dalam forum bank sentral di Istanbul, Turki, Kamis (8/10), membuka peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober sebelum mempertimbangkan pengetatan lanjutan.
Waller menjelaskan bahwa kebijakan moneter masih membutuhkan penyesuaian seiring tekanan inflasi yang bertahan di atas target. Penguatan aktivitas ekonomi AS pada paruh kedua tahun ini, tingginya harga energi akibat konflik Timur Tengah, serta meningkatnya permintaan barang dan jasa terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memperpanjang tekanan harga. Meski demikian, Waller menilai kenaikan suku bunga secara bertahap tidak harus menimbulkan perlambatan ekonomi yang signifikan, terutama selama kondisi pasar tenaga kerja tetap solid.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September menjadi kisaran 3,75%–4,00%. Proyeksi pejabat bank sentral menunjukkan kemungkinan kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin sebelum akhir 2026. Meski pasar memperkirakan suku bunga akan dipertahankan pada Oktober, pertemuan 8–9 Desember menjadi perhatian berikutnya untuk kemungkinan pengetatan lanjutan. Waller menegaskan bahwa keputusan tersebut tetap bergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kondisi ketenagakerjaan AS.
Dampaknya terhadap pasar, pernyataan Waller berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat masih akan berlangsung. Kondisi tersebut cenderung menjadi tekanan bagi harga emas (XAU/USD) karena meningkatkan daya tarik aset berbunga sekaligus biaya peluang memegang emas. Sementara itu, indeks saham Wall Street dan pasar Asia berisiko mengalami volatilitas akibat kekhawatiran terhadap biaya pinjaman yang lebih tinggi. Namun, sinyal fleksibilitas Waller juga dapat membatasi tekanan pasar dalam jangka pendek karena The Fed tidak memberikan kepastian mengenai waktu kenaikan berikutnya..