
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Federal Reserve Kansas City Jeff Schmid mengatakan The Fed masih perlu menaikkan suku bunga kebijakan lebih lanjut untuk menekan inflasi, meskipun yield obligasi jangka panjang yang tinggi mulai memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor ekonomi AS.
Berbicara dalam acara ekonomi regional di Oklahoma pada Selasa, Schmid mengakui kenaikan yield obligasi telah mendorong biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut berpotensi menekan aktivitas ekonomi, terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perumahan, investasi, dan pembiayaan perusahaan.
Meski begitu, Schmid menilai tingginya yield obligasi jangka panjang belum menggantikan kebutuhan The Fed untuk menggunakan instrumen utamanya, yaitu suku bunga jangka pendek, dalam mengendalikan inflasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian pejabat The Fed masih melihat ruang untuk pengetatan moneter tambahan. Hal ini menjadi penting di tengah pasar yang mulai meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Pandangan Schmid juga berpotensi menjaga yield Treasury dan Dolar AS tetap mendapat dukungan. Bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, ekspektasi suku bunga lebih tinggi biasanya menjadi tekanan karena meningkatkan opportunity cost memegang logam mulia.
Namun, Schmid tidak memiliki hak suara dalam keputusan suku bunga tahun ini, sehingga komentarnya lebih mencerminkan salah satu pandangan di internal The Fed daripada menjadi sinyal langsung mengenai hasil pertemuan FOMC berikutnya.
Analisis Newsmaker:
Pernyataan Schmid memberikan sentimen hawkish bagi pasar karena menegaskan bahwa perang melawan inflasi belum selesai. Jika pandangan serupa mendapat dukungan lebih luas dari pejabat The Fed, ekspektasi kenaikan bunga lanjutan dapat kembali meningkat, berpotensi menopang Dolar AS dan yield Treasury, sekaligus membatasi kenaikan emas dan aset berisiko.
Sumber : Newsmaker.id