
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Presiden AS Donald Trump kembali menyoroti tingginya suku bunga Amerika Serikat, terutama setelah tingkat bunga kredit pemilikan rumah atau mortgage meningkat tajam. Trump mengatakan Federal Reserve seharusnya menurunkan suku bunga karena biaya pinjaman yang tinggi membebani masyarakat. Pernyataan tersebut muncul ketika rata-rata bunga mortgage 30 tahun AS telah mencapai 7,49%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Kenaikan bunga mortgage tidak terlepas dari lonjakan yield Treasury AS. Yield Treasury 10 tahun sebelumnya sempat menembus sekitar 5,3%, didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi, kenaikan harga energi, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah dan perusahaan. Karena mortgage 30 tahun sangat dipengaruhi pergerakan Treasury 10 tahun, kenaikan yield akhirnya ikut meningkatkan biaya pinjaman rumah bagi masyarakat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan tekanan inflasi saat ini banyak dipengaruhi oleh energy shock akibat konflik di Timur Tengah. Menurut Bessent, jika konflik Iran mereda dan pasokan energi kembali normal, tekanan harga energi berpotensi berkurang. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu inflasi bergerak kembali menuju target The Fed dan pada akhirnya memberikan ruang bagi penurunan yield serta mortgage.
Namun, kondisi tersebut belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Inflasi AS masih berada di atas target 2%, sementara harga minyak kembali berada di level tinggi akibat risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Di sisi lain, FOMC Minutes terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun, meskipun pasar saat ini hanya memperkirakan peluang sekitar 20% untuk kenaikan pada Oktober.
Analisa Newsmaker :
Pernyataan Trump dan Bessent memperlihatkan tekanan politik untuk menurunkan biaya pinjaman, tetapi arah suku bunga tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan pasar obligasi. Jika harga minyak turun dan tekanan inflasi mereda, yield Treasury berpotensi ikut turun sehingga mortgage dan dolar dapat melemah. Sebaliknya, jika inflasi energi kembali meningkat, yield tinggi justru dapat bertahan lebih lama dan membuat ruang penurunan suku bunga The Fed semakin terbatas.
Sumber : Newsmaker.id