
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Dua pejabat Federal Reserve memberi sinyal bahwa bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kembali. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Wakil Ketua Bidang Pengawasan Michelle Bowman sama-sama menekankan perlunya lebih banyak waktu untuk membaca arah ekonomi dan inflasi sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Jefferson mengakui inflasi masih terlalu tinggi dan berisiko bertahan lebih lama. Namun, menurutnya, perubahan kebijakan ke depan harus ditentukan dengan mencermati tren data, prospek ekonomi, serta keseimbangan risiko. Ia menilai para pembuat kebijakan perlu membentuk penilaian secara hati-hati sebelum menentukan langkah lanjutan.
Bowman juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan belum melihat kebutuhan mendesak untuk mengambil tindakan tambahan dan menilai The Fed perlu memahami keseluruhan data ekonomi terlebih dahulu. Pernyataan tersebut sejalan dengan komentar Presiden New York Fed John Williams sebelumnya yang juga menilai tidak ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.
Perubahan nada dari sejumlah pejabat The Fed langsung memengaruhi ekspektasi pasar. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober yang sebelumnya berada di sekitar 70% telah turun ke bawah 35% setelah komentar pejabat Fed dan data inflasi yang lebih lunak. Ekspektasi tersebut kembali melemah setelah pernyataan Jefferson.
The Fed pada September menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Meski proyeksi median pejabat masih menunjukkan satu kenaikan tambahan tahun ini, Jefferson menilai kenaikan yield obligasi, harga energi, perkembangan AI, dan tarif membuat kondisi ekonomi semakin kompleks untuk dianalisis.
Analisis Newsmaker:
Nada yang lebih berhati-hati dari Jefferson, Bowman, dan Williams menunjukkan bahwa peluang kenaikan bunga Oktober semakin berkurang. Namun, The Fed belum menutup kemungkinan pengetatan tambahan karena inflasi masih tinggi dan ekonomi tetap solid. Fokus pasar kini akan tertuju pada data tenaga kerja, inflasi berikutnya, serta pergerakan yield untuk menentukan apakah kenaikan bunga bergeser ke akhir tahun atau justru dibatalkan.
Sumber: Newsmaker.id