Wall Street Merosot, Pasar Ragukan Langkah The Fed
Wall Street jatuh tajam pada perdagangan Rabu (29/7) setelah pasar obligasi menilai Federal Reserve berisiko tertinggal dalam mengendalikan inflasi. Dow Jones merosot 1.153,18 poin atau 2,19% ke 51.594,14, penurunan terburuk sejak April 2025.
S&P 500 turun 1,52% menjadi 7.316,15, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,74% ke 24.442,94. Nasdaq kini berada lebih dari 10% di bawah rekor tertingginya.
Tekanan meningkat setelah The Fed mempertahankan suku bunga meskipun tiga pejabat mendukung kenaikan 25 basis poin. Yield Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke atas 4,67%, sementara yield tenor 30 tahun menembus 5,2%, level tertinggi sejak 2007.
Lonjakan yield menunjukkan pasar obligasi belum yakin terhadap komitmen The Fed membawa inflasi kembali ke target 2%. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh bahwa bank sentral siap bertindak juga belum mampu meredakan kekhawatiran investor.
Risiko inflasi semakin besar setelah minyak WTI melonjak lebih dari 6% ke US$84,46 per barel. Kenaikan terjadi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan membalas Iran atas serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Saham semikonduktor turut memperparah pelemahan pasar. ETF SOXX jatuh 5,5%, Micron dan KLA merosot sekitar 10%, sedangkan AMD turun 5,5%. Dampaknya, kenaikan yield, lonjakan minyak, dan kekhawatiran belanja AI berpotensi menjaga tekanan pada saham teknologi serta indeks utama AS. (arl)
Sumber : Newsmaker.id