Emas Bertahan Kuat di Tengah Ancaman Inflasi
Harga emas mempertahankan penguatan di kisaran US$4.060 per troy ounce pada perdagangan Kamis (29/7). XAU/USD sebelumnya sempat melonjak hingga US$4.116,26, level tertinggi sejak 23 Juli, setelah Federal Reserve kembali menahan suku bunga.
The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% untuk pertemuan kelima berturut-turut. Keputusan diambil melalui pemungutan suara 9 lawan 3, dengan Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan mendukung kenaikan sebesar 25 basis poin.
Emas mendapat dukungan setelah Indeks Dolar AS turun sekitar 0,57% ke 100,83. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargakan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri dan memicu aksi beli kembali setelah tekanan pada sesi sebelumnya.
Namun, kenaikan emas mulai terpangkas karena pasar obligasi masih meragukan kemampuan The Fed mengendalikan inflasi tanpa menaikkan bunga. Yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,65%, sedangkan yield 30 tahun sempat menembus 5,20%, level tertinggi sejak 2007.
Ketegangan Timur Tengah turut menjaga permintaan aset aman. Harga Brent melonjak 7,91% ke US$90,74 per barel, sementara WTI naik 6,56% menjadi US$84,46, setelah serangan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.
Dampaknya, emas masih ditopang pelemahan dolar, risiko geopolitik, dan kekhawatiran inflasi energi. Namun, tingginya yield obligasi serta peluang kenaikan bunga pada September dapat membatasi penguatan. Pasar selanjutnya akan mencermati data inflasi PCE AS; hasil yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi menekan emas, sedangkan data yang lebih lunak dapat membuka jalan kembali menuju US$4.100–US$4.116. (arl)
Sumber : Newsmaker.id