CPI Adem, Asia Langsung Ngegas!
Bursa saham Asia menguat setelah data inflasi Amerika Serikat keluar lebih rendah dari perkiraan. Perlambatan inflasi ini membuat pasar lebih lega karena peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat mulai menurun.
Indeks MSCI Asia Pacific naik 1,2%, dengan Kospi Korea Selatan menjadi pemimpin penguatan setelah melonjak 6%. Saham teknologi ikut menjadi motor utama, terutama setelah SK Hynix naik 10% di Seoul, mengikuti lonjakan ADR perusahaan tersebut di Amerika Serikat yang melesat 27%.
Sentimen positif Asia mengikuti penguatan Wall Street. S&P 500 naik setelah bank-bank besar mencatat kinerja solid, sementara Nasdaq 100 terdorong reli saham chip. Di sisi lain, IBM justru anjlok 25% setelah mencatat penjualan yang tidak sesuai ekspektasi pasar.
Pasar obligasi AS juga bergerak positif setelah data CPI menunjukkan harga konsumen turun untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Imbal hasil Treasury turun karena trader mulai melepas taruhan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Juli. Dolar AS melemah tajam, sementara emas naik lebih dari 1% ke atas US$4.050 per troy ounce.
Namun, risiko belum sepenuhnya hilang karena harga minyak masih bertahan tinggi. WTI naik sekitar 1% ke dekat US$80 per barel setelah AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Serangan baru AS terhadap Iran juga menjaga kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Dampaknya ke market, data CPI yang lebih dingin memberi napas besar bagi saham Asia, emas, dan aset berisiko. Namun, konflik Iran dan kenaikan harga minyak tetap bisa menghidupkan kembali risiko inflasi. Jadi, pasar memang sedang lega, tetapi belum benar-benar aman dari tekanan suku bunga dan geopolitik.(asd)
Sumber: Newsmaker.id