Saham Asia Melonjak, Micron Bangkitkan AI Trade
Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Kamis (25/06), mengikuti kenaikan futures Wall Street setelah outlook Micron Technology kembali menghidupkan optimisme terhadap saham berbasis kecerdasan buatan. Kontrak Nasdaq 100 naik hampir 2%, sementara futures S&P 500 menguat 0,5%. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak hampir 5%, sedangkan MSCI Asia Pacific naik lebih dari 1% setelah dua hari sebelumnya tertekan aksi jual teknologi.
Sentimen positif datang dari Micron, produsen chip memori terbesar di Amerika Serikat, yang sahamnya melesat setelah penutupan pasar. Perusahaan memberi proyeksi penjualan kuartal berikutnya yang jauh melampaui ekspektasi Wall Street, didorong permintaan kuat untuk chip memori yang digunakan dalam infrastruktur AI. Hasil ini memberi sinyal bahwa permintaan data center, DRAM, NAND, dan high-bandwidth memory masih sangat kuat di tengah ledakan investasi AI.
Laporan Micron datang pada momen penting, setelah sektor chip dan teknologi sempat terpukul oleh kekhawatiran bahwa reli AI sudah terlalu jauh. Sebelumnya, investor mencemaskan besarnya belanja modal perusahaan teknologi dan apakah investasi tersebut bisa menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Namun, outlook Micron memberi bukti bahwa permintaan chip AI belum melemah, bahkan pasokan di beberapa segmen masih ketat.
Optimisme juga diperkuat oleh rencana SK Hynix untuk melakukan pencatatan saham di Amerika Serikat dengan target penggalangan dana sekitar US$29 miliar. Saham SK Hynix ikut melonjak pada awal perdagangan Asia karena investor melihat perusahaan memori Korea Selatan itu tetap berada di posisi penting dalam rantai pasok AI global. Bersama Micron dan Samsung Electronics, SK Hynix menjadi salah satu penerima manfaat utama dari booming pusat data dan komputasi AI.
Di luar sektor teknologi, penurunan harga minyak ikut membantu sentimen pasar. Brent bertahan di bawah US$74 per barel setelah turun tajam pada sesi sebelumnya, seiring tanda pasokan global membaik dan pembicaraan damai AS-Iran menunjukkan kemajuan. Turunnya harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi, mendorong reli obligasi AS, dan menurunkan yield Treasury. Meski begitu, dolar AS yang masih kuat tetap menjadi tantangan bagi mata uang Asia, sehingga pasar tetap mencermati data inflasi PCE AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed berikutnya.(asd)
Sumber: Newsmsker.id